SAAT IBU PERGI
Part 1
#ODOP
#Utang17september
Aku
lahir di sebuah desa saat Indonesia belum genap 13 tahun merdeka. Negaraku
masihlah remaja. Kemiskinan masih melanda negeri ini akibat peperangan yang
terus berkecamuk. Akupun merasakan kemiskinan itu. Aku lahir sebagai anak kedua
dari 11 bersaudara. Dari ke sebelas bersaudara tiga di antaranya sudah
dipanggil Allah sang pemilik jiwa saat usia masih bayi.
Hiduplah
aku, Ugik kecil dengan berbagai beban hidup di pundakku. Aku hanyalah tamatan
SD kelas 6 pada tahun 70 an aku lulus sudah. Semua dengan perjuangan yang tak
keal menyerah. Orang seusiaku pada jamannya tidak berpendidikan tinggi. Kakakku
dan adik-adikku tidaklah tamat sekolah Dasar. Hanya saudara ke-7 dan ke- 8 yang sempat mengenyam pendidikan sampai
lulus SMP.
Aku
membayar uang sekolah dengan peluh keringatku yang mengalir. Aku kumpulkan
daun-daun jati untuk dijual ke pengrajin tempe. Ada beberapa pengrajin tempe
langganan daunku.
Selepas
lulus SD aku tidak meneruskan sekolah. Aku tidak diperbolehkan oleh bapakku.
Sebenarnya aku mau disekolahkan oleh guruku, pak Radi. Beliau menangkap
ketekunanku dalam belajar, sehingga nilaiku tidak terlalu jelek untuk ukuran
jaman itu. Aku sangat pandai berhitung. Guruku merasa kasihan denganku dan akan
memasukkanku ke sekolah guru. Pada waktu
itu namanya masih SGB.
Gayung
tidak bersambut oleh orang tuaku. Akhirnya aku ikut bekerja membantu ibuku yang
berdagang di kota Ngayogyakarta Hadiningrat. Aku bawa berbagai hasil palawija
dari desa. Setiap pagi aku berkejar-kejaran dengan kereta. Bau asap rokok dan
keringat para penumpang sudah menjadi hisapan napasku sehari-hari.
Sampai
di stasiun Lempuyangan kereta berhenti. Akupun segera ikut berhamburan turun dari kereta. Dengan membawa dagangan aku
jalan setengah berlari menuju pasar Beringharjo. Aku menjajakan daganganku di
pasar Beringharjo. Pasar yang terkenal dengan kawasan Malioboro. Tak jarang aku
harus berpeluh keringat.
Aku
berdagang tidak sendirian, aku berjualan bersama simbok dan bapak. Walau lelah
aku terus mengikuti jejak bapak dan simbok. Sampai di pasar Beringharjo segera
kutaruh dagangan dan dijual kepada pedagang besar. Nanti bapak atau simbok yang
melakukan proses tawar menawar.
Selain
aku, adik tepat di bawahku alias anak ketiga bapakku juga ikut berdagang. Kami
hanya selisih satu tahunan. Walaupun demikian akulah yang sangat berperan besar
membantu orang tuaku. Maklum aku anak perempuan pertama. Semua kujalani demi
baktiku pada orang tua.
Dalam
diamku, aku selalu berharap bisa meringankan beban orang tuaku. Aku sendiri
hidup sebagai orang Jawa tulen. Pendidikan agama hanya sebatas di sekolah,
tidak pernah melakukan ibadah sesuai ajaran Islam seperti shalat dan zakat.
Kalau zakat karena kami memang tak mampu berzakat. Aku berdoa dalam batinku
tidak saat shalat. Setelah meninggalkan bangku sekolah tentu pendidikan agama
tidak pernah aku dapat.
(bersambung)
(bersambung)
#ODOP
#Utang17september
Komentar
Posting Komentar