SAAT IBU PERGI

Part 1

Aku lahir di sebuah desa saat Indonesia belum genap 13 tahun merdeka. Negaraku masihlah remaja. Kemiskinan masih melanda negeri ini akibat peperangan yang terus berkecamuk. Akupun merasakan kemiskinan itu. Aku lahir sebagai anak kedua dari 11 bersaudara. Dari ke sebelas bersaudara tiga di antaranya sudah dipanggil Allah sang pemilik jiwa saat usia masih bayi.
Hiduplah aku, Ugik kecil dengan berbagai beban hidup di pundakku. Aku hanyalah tamatan SD kelas 6 pada tahun 70 an aku lulus sudah. Semua dengan perjuangan yang tak keal menyerah. Orang seusiaku pada jamannya tidak berpendidikan tinggi. Kakakku dan adik-adikku tidaklah tamat sekolah Dasar. Hanya saudara ke-7 dan  ke- 8 yang sempat mengenyam pendidikan sampai lulus SMP.
Aku membayar uang sekolah dengan peluh  keringatku yang mengalir. Aku kumpulkan daun-daun jati untuk dijual ke pengrajin tempe. Ada beberapa pengrajin tempe langganan daunku.
Selepas lulus SD aku tidak meneruskan sekolah. Aku tidak diperbolehkan oleh bapakku. Sebenarnya aku mau disekolahkan oleh guruku, pak Radi. Beliau menangkap ketekunanku dalam belajar, sehingga nilaiku tidak terlalu jelek untuk ukuran jaman itu. Aku sangat pandai berhitung. Guruku merasa kasihan denganku dan akan memasukkanku  ke sekolah guru. Pada waktu itu namanya masih SGB.
Gayung tidak bersambut oleh orang tuaku. Akhirnya aku ikut bekerja membantu ibuku yang berdagang di kota Ngayogyakarta Hadiningrat. Aku bawa berbagai hasil palawija dari desa. Setiap pagi aku berkejar-kejaran dengan kereta. Bau asap rokok dan keringat para penumpang sudah menjadi hisapan napasku sehari-hari.
Sampai di stasiun Lempuyangan kereta berhenti. Akupun segera ikut berhamburan  turun dari kereta. Dengan membawa dagangan aku jalan setengah berlari menuju pasar Beringharjo. Aku menjajakan daganganku di pasar Beringharjo. Pasar yang terkenal dengan kawasan Malioboro. Tak jarang aku harus berpeluh keringat.
Aku berdagang tidak sendirian, aku berjualan bersama simbok dan bapak. Walau lelah aku terus mengikuti jejak bapak dan simbok. Sampai di pasar Beringharjo segera kutaruh dagangan dan dijual kepada pedagang besar. Nanti bapak atau simbok yang melakukan proses tawar menawar.
Selain aku, adik tepat di bawahku alias anak ketiga bapakku juga ikut berdagang. Kami hanya selisih satu tahunan. Walaupun demikian akulah yang sangat berperan besar membantu orang tuaku. Maklum aku anak perempuan pertama. Semua kujalani demi baktiku pada orang tua.
Dalam diamku, aku selalu berharap bisa meringankan beban orang tuaku. Aku sendiri hidup sebagai orang Jawa tulen. Pendidikan agama hanya sebatas di sekolah, tidak pernah melakukan ibadah sesuai ajaran Islam seperti shalat dan zakat. Kalau zakat karena kami memang tak mampu berzakat. Aku berdoa dalam batinku tidak saat shalat. Setelah meninggalkan bangku sekolah tentu pendidikan agama tidak pernah aku dapat.
(bersambung)


#ODOP
#Utang17september

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 11

Mengapa Saya Harus Menulis?

Gantungan Cinta