Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Apakah Kalian tahu mbak AIDA?, Si Jago Iklan

Gambar
Oleh : Wuri Setiasih Hallo readers.. Saat ini saya akan membahas tentang mbak AIDA. Hallo mbak AIDA, hehe. AIDA adalah suatu singkatan dari  Attention, Interest, Desire, Action . Formula AIDA, bukan nama orang ya jadinya.. J . Dengan bantuan mbak AIDA kalian bisa mengubah halaman komputer/laptop atau gadget untuk menarik seseorang agar melakukan tindakan. Jadi,  mbak AIDA  bisa digunakan dalam teknik copywriting . Sebenarnya tidak terbatas untuk teknik copywriting ya. Formula AIDA ini bisa juga digunakan untuk mempercantik tulisan agar lebih menarik dibaca dan tentunya mempengaruhi pembaca. Beberapa pakar mengatakan teknik AIDA mudah dipraktekkan, dan bisa meningkatkan omset sampai 200%.. Wowwww.. Masya Allah yaa... Sekarang saya coba jelaskan one by one yaa.. 1. Attention  Dalam dunia maya informasi sangatlah banyak dan cepat datang bertubi-tubi. Kalau tulisan kita tidak menarik maka akan dilewati orang begitu saja. Hal ini sejalan penelitian Si...

Impian Menjadi Penulis

Gambar
Assalamu'alaikum wr.wb Hallo reader, saat ini saya akan mengikuti ODOP kelas nonfiksi.. Saya akan konsen ke masalah bisnis, mompreneur, parentin, inspirasi dan bisnis online. Hal itu saya pilih karena mengingat saya adalah seorang mompreneur.. Saat ini menelurkan buku mompreneur2 kece. Buku ini merupakan buku antologi.. Insya Allah akan menyusul buku Solo.. Bismillah #ODOP batch 6 #nonfiksi

Email Cinta Buat PJ Pulauku

Aku terdampar di pulau Buru Dan aku mengenalmu, wahai bidadari cantik Sabar, penuh cinta kasih Kau rengkuh kami Kau bimbing kami Menuju jalan pulang Jalan penuh cahaya Cahaya akan ilmu Ilmu bicara dalam kata Sering kami mengabaikan tugasmu Tapi kami abaikan Terima kasih pj cantikku Semoga kebaikan, kesabaran, dan ilmunya.. semoga mendapat pahala dariNya Dan jodoh juga 😊😊 Aamiin YRA #tantanganspesial #suratcintabuatpj #ODOPbatch6

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - part 12

“Yu, kenapa? Haduh metu getihe . “Kata adikku, Sutris. “Yu, ini getah tanaman Yodium”, Sutris berlari mencari getah pohon Yodium di halaman rumah. Segera kuoles luka yang berada di lututku. Nasibku hari ini, sepertinya kurang beruntung. Semalaman aku merintih menahan sakitnya lututku. Luka di lutut biasanya bertahan lama. “Nduk, cepat tidur besok siang kamu harus ikut menerima tamu”, bapak menengokku ke kamar. “Nggih pak,” aku anggukkan kepala. “Sreeek!” bapak pelan-pelan menutup pintu kamarku lalu segera menyalakan radio kesayangannya. Bapak selalu mendengarkan berita dan mendengar cerita wayang. Kala itu wayang masih menjadi tontonan sangat istimewa di desaku. Hanya orang-orang kaya saja yang bisa nanggap wayang kala hajatan.   Matahari setia menampakkan diri dan selalu berusaha menerangi kehidupan ini. Tiada mendung tampak di langit yang putih. Sungguh cerah, tapi tidak secerah batinku yang sedang gelisah. “Thok thok... Kula nuwun”, suara bapak-bapak terdengar...

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 11

Akupun ikut bergabung dengan bapak yang sedang mengobrol dengan tetangga. “ Piye Mo, jare si Ugik meh dilamar ”, kata pakdeku yang di belakang rumah pada bapakku. “ Ho o kang, rencanane sekitar seminggu meneh. Sesuk aku lagi ketemu Radi nang omahe morotuwoku. ” Bapak menjelaskan kalu besok baru merencanakan secara matang soal perjodohanku. “Ya udah, biar wudunmu segera pecah. Tidak kepikiran lagi golekke jodo anakmu wadon iki ”, Pakde karo nepuk-nepuk pundakku. Aku yang lagi duduk di samping pakde hanya bisa mendengarkan pembicaraan mereka. Diam seribu bahasa. “ Lha piye nduk. Wis mantep to? ’ tanya pakde padaku. “Sebenarnya masih bingung pakde?” kataku. “Lha kenapa bingung Nduk?, banyak orang yang menunggu ingin menikah kamu malah bingung”, lanjut Pakde. “Gak apa-apa Pakde. Kula kan dereng nate kenal dados isin lan wedi ?”, sahutku. “ Wis ditampa wae. Muga-muga jodomu iki bener, iso nggo bebrayan sing sak lawase ”, lanjut pakde. “Lha bocahe ki piye Mo?, kata P...

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 10

“Memang mas Gunadi gimana Nan?” kataku. “ Halah embuh, udu jodohku Gik . Sepulang dari sini, mas Gun sebenarnya ingin melamarku. Tapi ternyata orang tuanya tidak setuju. Dia dijodohkan dengan gadis sekampungnya. Bapaknya ingin mempunyai menantu yang dekat.”Kata Nani. “Maklumlah, mas Gun kan memang rumahnya jauh di Sulawesi. Harus menempuh beberapa hari dari sini dengan perjalanan laut kalau ke rumahnya. Terakhir dia kirim surat tiga bulan yang lalu. Dia kabarkan pernikahannya dan permohonan maafnya”. “Terus kamu gimana Nan?” tanyaku serasa lupa masalahku. “Iya gak apa-apa emang bukan jodohku?”, lanjut Nani. “Oh ya terus kamu gimana Gik, mau nerima dijodohin?,” Nani kembali ke masalahku. “Menurutmu gimana Nan?” kembali aku bertanya. “Ya, terima saja, mungkin itu jodohmu. Daripada kelamaan nunggu pangeranmu?”, sambung Nani. Nani sepertinya paham akan perasaanku. Memang dia adalah sahabatku satu-satunya yang kuceritain masalah pribadiku. Mendengar perkataan Nani, aku m...

TAKDIR, ISTRI SIRI - PART 9

“Gini nduk, bapak berniat menjodohkanmu dengan anak teman bapak”, bapak sedikit batuk. Bagaikan tersambar petir, kudengar kata bapak. “Dijodohkan pak?”, kataku,”saya tidak mau pak.. takut”. “Kenapa takut?, dulu bapak juga dijodohkan nduk dengan simbokmu”, lanjut bapak. Aku tidak habis pikir, bagaimana rasanya dijodohkan. Ada rasa takut menggelayut. Takut akan laki-laki yang tidak kukenal sebelumnya. Terbersit juga dalam pikiran, harus membuang rasa yang telah tumbuh dalam hatiku. Rasa yang menahan kerinduan. “Bapak harap kamu menerima perjodohan ini nduk. Jujur bapak berharap kamu ada yang mengurusi, biar bapak lega” “Besok lusa aku akan bertemu teman bapak di rumah Simbah mu membicarakan hal imi”, kata bapak selanjutnya. Aku hanya mengangguk dan berlalu menuju tempat tidur. Malam rasanya begitu lambat, tapi aku tidak bisa tidur. Esok harinya aku kembali bekerja sebagai pembantu rumah tangga di majikanku. “Pak, saya berangkat dulu”, pamitku pada bapak yang baru minum...

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 8

Baru pertama kali aku mendapatkan surat cinta. Aku simpan surat itu. Aku tertawa sendiri, bahagia. Cinta mungkin sudah mulai memasuki alam batin dan jiwaku. Suatu hari, melalui suratnya mas Ken Jenar mengabarkan akan pulang ke kampung halamannya agak lama. Karena ibunya sakit keras. Kerjanya sebagai guru honorer sementara cuti. Dia akan kembali setelah ibunya membaik. Aku seperti kehilangan cahaya hidup. Aku tak pernah menemukannya dalam kegiatan belajar seni karawitan. Merindu. Aku mulai merasakan kerinduan yang mendalam. Entah harus diobati dengan apa. Aku sering melamun. “ kenapa kamu melamun Nduk?”, kata kakakku. “ Mikirke mas Jenar yo. Uwis rasah dipikirke. Ra mungkin dewekke mrene maneh. Paling mulih mung arep rabi ”, kata kang Joko. Kakakku memang tahu aku sering dikirimi surat cinta dari mas Jenar. Tapi kata dia, aku hanya akan bermimpi. Karena selain mas Jenar orang jauh juga past anak orang kaya, tidak mungkin hubungan kami direstui. Aku buang sedikit demi...

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 7

Dalam masa remajaku, aku aktif di kegiatan sinoman dan karawitan. “Nduk, namamu siapa?” tanya seorang laki-laki ganteng, yang pintar main gamelan jawa. Dia mempunyai rebab dan sering ikut memainkan dengan kami di grup karawitan. “Saya Ugik mas”, jawabku. Tampak dia manggut-manggut. Sejak itu dia sering melirikku dan melempar senyum padaku. Aku sangat malu. Kuakui dia ganteng dan berbadan bersih. Tapi dia bukan orang asli desaku. Namanya mas Ken Jenar. Seorang guru honorer di SMP negeri dekat rumahku. Dia asal Ponorogo, Jawa Timur. Jauh sekali. Meskipun jarang mengobrol dia terlihat menyukaiku. Kala itu belum ada telepon dan HP. Suatu hari mas   mengirim surat kepadaku, dia kirimkan lewat Kang Jono pemilik rumah tempat dia kos. Di rumah Kang Jonolah aku bertemu pertama kali dengan mas Jenar. Rumah kang Jono kebetulan sebagai pusat kegiatan sinoman dan rumah sebelahnya sebagai tempat aktivitas pemuda dan warga belajar seni karawitan. Aku sering membaca suratnya, surat...

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - part 6

Gamelan biasa dimainkan sebagai sebuah pertunjukkan musik tersendiri maupun pengiring tarian atau seni pertunjukkan seperti Wayang Kulit dan Ketoprak. Perangkat gamelan sendiri ada beberapa macam yaitu kendhang, demung, saron, peking, gong, bonang, slenthem, kethuk, kenong, gender, gambang, rebab, siter dan suling. Dalam memainkan aku saya memegang bagian gong. Dengan seni karawitan aku menjadi lebih terhibur. Aku menjadi punya banyak teman. Masa remajaku menjadi penuh warna. Selain itu ada program pemberdayaan wanita dari pemerintah, yaitu pembekalan ketrampilan bagi para pemuda dan pemudi. Aku tertarik dan mengikuti kursus menjahit. Aku belajar membuat pola dan menjahit dengan rapi. Aku mulai bikin baju sendiri dan buat adikku, si bungsu yang kini sudah masuk sekolah SD. Aku tidak mempunyai mesin jahit sendiri. Setiap aaku membuat baju harus numpang ke tempat tetangga yang kebetulan mempunyai mesin jahit. Aku mulai menabung untuk membeli mesin jahit. Aku mulai menerima jahitan d...

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - Part 5

MANISNYA MASA REMAJA Sepeninggal ibuku aku mulai beranjak dewasa. Aku mulai bergabung dengan teman-teman sebaya. Suatu hari tetanggaku, mas Karsi bilang, “ Gik kamu sudah besar bisa ikut kumpulan sinoman”. “Apa itu kang?” kataku. “Kumpulan pemuda dan pemudi desa kita yang membantu kegiatan desa, salah satunya hajatan warga”. “Oh, boleh kang saya bisa ikut kang”, jawabku dengan senang. Sejak itu aku ikut kumpulan pemuda dan pemudi desa. Salah satu kegiatannya adalah sebagai penyaji jamuan makan pada saat hajatan warga.             Bagi yang perempuan menggunakan kebaya dan disanggul. Sedangkan laki-laki memakai seragam bawah hitam, atas polosan. Kami, yang perempuan harus di make up. Ada ibu-ibu tetangga yang merias kami, namanya bu Warni. Sejak mengikuti kegiatan ini aku semakin ceria. Aku mulai belajar menyasak dan menyanggul kepada ibu Warni. Suatu hari bu Warni bilang,” Mbak Ugik kamu berbakat lho merias, bole...

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 4

Aku terbangun, dan tidak menemukan simbok. Ku cari adikku yang bungsu. Tampak dia masih tertidur di sampingku. Kupandang adikku, aku berharap dia tidak sepertiku. Dia harus sekolah lebih tinggi dariku. Walau badai menghadang, angin menerpa dia nanti harus berhasil. Dukaku akan kehilangan ibu masih terlalu dalam. Terkadang aku menangis, ingin rasanya bertemu. Tapi semua tinggal khayalan. Terkubur sudah jasad beliau bersama impianku untuk melanjutkan sekolah. Kubuka lembar demi lembar hidupku yang baru, tanpa ibu dengan adik yang cukup banyak. Sejak kepergian beliau hidupku sedikit terkuras dengan pikiran negatif. “Nduk, kenapa kamu melamun?’ kata bapak. “Gak apa-apa pak. Ugik hanya teringat mendiang ibu”, aku menjawab dengan sedikit serak karena semalaman aku menangis, teringat akan ibu. “Bapak mengerti Nduk, tapi jangan biarkan dirimu melamun terus tanpa melakukan apa-apa ya. Masih banyak orang yang lebih menderita dan bersedih daripada kamu,” kata bapak. “Iya pak, saya p...

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - Part 3

Dalam kondisi sekarang aku tidak punya pilihan. Aku harus mengasuh adikku yang paling kecil. Dengan penuh kasih sayang aku besarkan adik-adikku bersama bapakku. Akhirnya aku tidak berdagang lagi. Kembali aku kumpulin daun jati yang kupetik dari pekarangan. Sesekali aku kumpulkan juga kayu yang berserakan. Aku jual kepada pengrajin tempe langgananku. Saat usia adik bungsuku satu tahun aku sangat sedih. Adikku yang kedua alias anak bapak yang keempat sakit keras. Dia terkena diare hebat dan muntah-muntah. Tak ayal lagi segala hal dilakukan bapak untuk menyelamatkan adikku yang bernama Misno. Akulah yang ikut wira wiri bapak ke klinik di Jogja. Sungguh berat cobaan keluarga kami di tahun ini. Genap usiaku yang ketiga belas tahun harus ditinggal simbok dan adikku sakit keras. Adikku, Misno hampir menyusul ibuku. Beruntung Misno masih tertolong. Bapak terpaksa menjual salah satu pekarangan dan sawah miliknya. Maklum biaya pengobatan saat itu sangat mahal. Aku semakin kasihan sama ba...

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - Part 2

Selain aku, adik tepat di bawahku alias anak ketiga bapakku juga ikut berdagang. Kami hanya selisih satu tahunan. Walaupun demikian akulah yang sangat berperan besar membantu orang tuaku. Maklum aku anak perempuan pertama. Semua kujalani demi baktiku pada orang tua. Dalam diamku, aku selalu berharap bisa meringankan beban orang tuaku. Aku sendiri hidup sebagai orang Jawa tulen. Pendidikan agama hanya sebatas di sekolah, tidak pernah melakukan ibadah sesuai ajaran Islam seperti shalat dan zakat. Kalau zakat karena kami memang tak mampu berzakat. Aku berdoa dalam batinku tidak saat shalat. Setelah meninggalkan bangku sekolah tentu pendidikan agama tidak pernah aku dapat. Baru sekitar seminggu kutinggalkan bangku sekolah, tak menyisakan lagi harapan untuk bisa melanjutkan sekolah. Saat itu Ibuku sedang hamil anak yang terakhir. Sudah hampir melahirkan dan aku sebagai anak perempuan tak punya pilihan lain selain membantu ibu. “Nduk, hari ini kamu jangan pergi kemana-mana ya,” kata S...