Resign Reni - Part 2


PART 2
            Lalu aku tidur ditemani suamiku yang sangat menyayangiku. Aku beruntung dipertemukan dengan suami yang memiliki kesabaran luar biasa. Mungkin Allah sayang sama diriku, yang sifatnya keras dan sedikit egois. Mungkin karena aku anak terakhir yang terlahir dari rahim ibuku.
            Geliat si bayi mungilku dengan tangisan kecilnya membangunkan aku. Kugendong dede Iffah. Rupanya dia kehausan.
            “Dede, bunda akan selalu ada bersamamu ya,” kubisikkan sesuatu ke dalam telinganya.
            Aku merasa saran dari mas Rudi sangatlah masuk akal dan dengan pertimbangan hati. Kami sudah menunggu kehadiran sang buah hati lumayan lama, selayaknya aku dan suami bersyukur. Aku ingin menjadi orang tua terbaik buat anak pertamaku dan anak – anakku yang terlahir kelak.
            Kutidurkan kembali buah hatiku. Kupandang wajah suamiku yang tampak kelelahan menjagaku dan menjaga anakku.
            “Mas, maafkan aku, isterimu ini,” kataku sambil mengecupnya.
Suamiku sosok yang romantis. Kala lelah dia selalu merindukanku dan ingin dipeluk. Katanya itu membuat dia hilang lelahnya. Mungkin memang seperti itu kehidupan rumah tangga. Ada tawa, ada air mata.
            Kuambil air wudlu dan kumantapka diri menghadap sang lahi di sepertiga malam terakhir ini. Lelahku seharian kemarin rasanya telah hilang dan tergantikan energi dari Allah yang Dia kirimkan di sepertiga malam terakhir ini.
            Ya Allah hamba pasrah akan keadaan ini. Hamba yakin ada amanah lebih besar daripada sekedar bekerja. Kuatkan hatiku melangkah menjadi ibu rumah tangga. Berikan keselamatan, petunjuk dan rezekiMu yang halal kepada keluarga kami. Ya Allah, jadikan anak kami penyejuk hati kami. Berikanlah dia kesehatan dan bimbinganMu. Aamiin,” doaku
            Setelah bangun salat malam. Kuambil sayur dan beras. Hari ini aku ingin memasak buat suamiku. Memang selama aku bekerja, aku jarang memasak. Aku lebih suka membeli masakan yang sudah matang. Tentu saja jadi boros dan kurang sehat.
Beberapa alat masak, kado pernikahanku memang masih utuh. Mulai hari ini aku akan menggunakannya agar bermanfaat dan tidak mubadzir. Rasa syukurku rasanya memenuhi sudut hatiku.
Bismillah. Aku ingin menjadi ibu rumah tangga. Demi diriku dan keluargaku.
            (bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 11

Mengapa Saya Harus Menulis?

Gantungan Cinta