TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 11
Akupun
ikut bergabung dengan bapak yang sedang mengobrol dengan tetangga.
“Piye Mo, jare si Ugik meh dilamar”, kata
pakdeku yang di belakang rumah pada bapakku.
“Ho o kang, rencanane sekitar seminggu meneh.
Sesuk aku lagi ketemu Radi nang omahe morotuwoku.”
Bapak
menjelaskan kalu besok baru merencanakan secara matang soal perjodohanku.
“Ya
udah, biar wudunmu segera pecah.
Tidak kepikiran lagi golekke jodo anakmu
wadon iki”, Pakde karo nepuk-nepuk pundakku.
Aku
yang lagi duduk di samping pakde hanya bisa mendengarkan pembicaraan mereka.
Diam seribu bahasa.
“Lha piye nduk. Wis mantep to?’ tanya
pakde padaku.
“Sebenarnya
masih bingung pakde?” kataku.
“Lha
kenapa bingung Nduk?, banyak orang yang menunggu ingin menikah kamu malah
bingung”, lanjut Pakde.
“Gak
apa-apa Pakde. Kula kan dereng nate kenal
dados isin lan wedi?”, sahutku.
“Wis ditampa wae. Muga-muga jodomu iki bener,
iso nggo bebrayan sing sak lawase”, lanjut pakde.
“Lha
bocahe ki piye Mo?, kata Pakde pada bapak.
“Aku yo ora pati ngerti Kang. Ning nek
koncoku, Radi wonge yo apik”, jawab bapkku.
“O,
ya udah semoga ankanya juga seperti itu”, kata Pakde.
Malam semakin larut dan kami pun pulang ke
rumah masing-masing.
Paginya bapak ke sawah dan sorenya akan ke
rumah simbah menemui pak Radi.
***
Sepulang dari rumah pak Radi, bapak
memanggilku.
“Mrene Gik”.
Akupun segera menemui bapak.
“Dadi
ngene, aku mau wis ketemu pak Radi. Tiga hari lagi dia dan anaknya yang
bernama Santari mau datang ke rumah. Jadi, kita harus menyiapkan sesuatu buat
menyambut tamu. Gak usah yang berlebihan”, kata bapak.
Perasaanku semakin gak karuan. Akupun
terpaksa mengiyakan kemauan bapak agar beliau tidak terbebani karena aku belum
menikah.
Esok harinya aku belanja keperluan untuk
menerima tamu yang melamarku.
Selang sehari sebelum perjodohanku.
“Braak!”. Sepeda dari belakangku menabrakku
karena memang remnya blong dari arah tanjakan. Akupun jatuh tersungkur.
Untung ada tetangga yang segera datang
menolongku.
“Nduk, nduk mau dilamar kok malam jatuh.
Pertanda apa nduk. Apa tadi nagalamun?” kata mbah Setra tetanggaku.
“Enggak mbah, sepeda kang Nono saja yang
remnya blong dan menabrakku dari belakang!” jawabku.
“Oo... ya
muga-muga ra ono opo-opo”, kata mbah Setra.
Lalu mbah Setra membawa sepedaku, sedangkan
aku pulang sambil memegang lututku mengeluarkan cairan merah darah.
#bayarutang#ODOPbatch6
Komentar
Posting Komentar