Resign Reni - Tamat


Part 3

Setelah selesai memasak aku mandi di kala fajar. Kubangunkan suamiku dan diapun segera mandi dan salat malam. Suamiku memang luar biasa, selain sabar dia juga rajin salat berjamaah di masjid dan salat malam.
“Ayah, hari ini bunda sudah mantap mau resign,” aku bilang kepada suami usai dia salat.
“Alhamdulillah,” ucap suamiku sambil memelukku.
Wajahnya tersenyum bahagia. Akhirnya dia mampu juga membuka hatiku dan harapannya tercapai.
            Lalu kubuat surat pengunduran diri. Suamiku akan mengantarkan aku ke pabrik tempat aku bekerja. Dengan kemantapan hati, aku dan suami menuju ke pabrik. Anakku kubawa ikut serta karena tidak ada yang menjaga.
            Sampai di pabrik aku bertemu dengan teman – temanku. Mereka tampak heran melihat kami bertiga. Lalu aku masuk ke ruang atasanku, sedangkan suami menunggu di luar sambil menggendong dede Iffah, anak pertamaku.
***
            “Assalamu’alaikum ibu. Mohon maaf saya mau menyampaikan surat pengunduran diri saya bu,” ucapku kepada atasanku.
            “Lho, kenapa? Kamu sudah lama bekerja di sini dan termasuk berprestasi lho!” kata bu Rina, atasanku.
“Maaf bu, keputusanku sudah bulat. Ini demi keluarga kecilku Bu, “ kusampaikan alasanku.
“Nanti kamu bisa naik karirnya. Saya janji akan menaikkan posisimu setelah kamu masuk,” lanjut bu Rina.
“Mohon maaf bu, saya tidak bisa,” kataku.
Akhirnya bu Rina menyerah dan mengucapkan selamat. Sebenarnya bu Rina adalah sosok atasan yang baik dan selalu mensuportku. Kami memang lumayan dekat. Terkadang dia juga curhat akan keinginannya resign demi keluarga. Tapi dia belum mampu membulatkan tekadnya. Kamipun berpelukan dan mengucapkan permintaan maaf selama berkerja sama mungkin ada kesalhan dan kekhilafan.
***
            Aku ke luar ruangan denga perasaan lega dan bahagia. Hari ini aku sudah membuat keputusan yang sangat tepat. Aku ingin memulai karir menjadi ibu rumah tangga. Berpikir positif, itu yang akan aku tanamkan selalu pada diriku. Semua tidak berakhir dengan hanya memilih menjadi ibu umah tangga. Cintaku pada suami dan keluarga kecilkulah yang mendorongku untuk resign.
            Resign yang terbaik. Rezeki sudah Allah yang mengatur. Aku membuat planning after resign. Tetap berdaya dari rumah itu tekadku. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin
*TAMAT*


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 11

Mengapa Saya Harus Menulis?

Gantungan Cinta