Gantungan Cinta

Dear Diary,
Rasanya lama sudah kutak menyentuhmu. Saat ini aku dalam kesepian menunggu ketidakpastian. Sudah lama aku menjalin hubungan dengan kang Rendi. Tapi tidak kudapati keinginan serius darinya. Apakah aku akan segera dipinangnya ataukah hanya sebagai teman ngobrol biasa saja.

Diary, aku sebenarnya sangat mencintainya dan mengharapkan imamku adalah dia. Dalam setiap doaku sehabis salat selalu aku mohon dia akan diizinkan Allah sebagai imamku.
Mungkin aku terlalu berlebihan ya Diary. Terkadang aku juga takut seperti mendikte Tuhan, Allah Sang Maha Pemberi Keputusan.

Jujur tadi pagi aku terkejut. Tidak biasanya kang Rendi mendiamkan chat WA-ku. Dia bacapun tidak. Aku hanya menahan tanda tanya, sedikit meleleh air mata.
Ada apa ya Di, kira-kira?
Memang beberapa hari ini aku menanyakan keseriusan kang Rendi akan hubungan aku dan dia. Sejak itu kang Rendi seperti seperti sedikit diam. Aku jadi bingung Di.

Memang kang Rendi belum hidup mapan. Dia masih memyelesaikan kuliah S2 nya sembari kerja sebagai guru bimbingan belajar. Mungkin dia berpikir belum siap memenuhi kebutuhanku. Tapi semua bisa dibicarakan dengan baik kan Di?
Aku sendiri baru lulus kuliah. Aku juga akan mencoba peruntunganku dengan mengikuti tes CPNS di tahun 2018 ini. Kalau aku sendiri, menikah tidak harus dengan orang kaya. Aku yakin setelah menikah rezeki akan mengalir. Selain itu aku dan kang Rendi sudah memiliki bekal ilmu.

Untuk mendapatkan rezeki tidak harus menjadi pegawai kan Di?
Lihat saja banyak sekali pengusaha, sastrawan, musisi dan sebagainya yang bisa hidup dengan tidak bergantung pada suatu instansi. Aku sendiri tidak terlalu menginginkan jadi pegawai negeri sipil Di. Aku lebih suka menjadi pengusaha, karena bebas mengatur waktuku.
Iya kan Di?
Banyak sekali impianku dari yang bermodal dengkul sampai modal yang harus merogoh kocek  yang lumayan. Aku pernah nyambi kerja di toko buku, menjadi guru bimbel, member MLM dan sebagainya. Pahit getir saat kuliah sambil kerja menempaku.
Kembali lagi ke kang Rendi Di. Apakah dia tidak yakin atas diriku?
Terkadang ada juga sak wasangka jangan-jangam dia punya wanita lain.
Mungkin dia hanya menganggapku teman biasa.  Lalu apa arti surat-suratnya sampai sebulan yang lalu.

Memang sejak kang Rendi kuliah S2 kami jarang bertemu, tapi surat dan WA/teleponnya sering menyapaku.
Oh, kang Rendi. Apakah engkau tega menggantungku. Kini kurasakan bagaimana rasanya digantung harapanku.
#ODOP

Komentar

  1. Saya suka, jujur dan terasa dari hati. Pengaturan baris dan paragrafnya aja kak yang diperbaiki, jadi membaca per barisnya lebih enaaaaaak. Semoga ga macem-macem nih si Akang hehehehe

    BalasHapus
  2. jadi baper nih membaca ceritanya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 11

Mengapa Saya Harus Menulis?