Bayangan Suram Part 1
BAYANGAN SURAM
PART 1
“Kamu harus menikah Nani!,” kata ibunya.
“Aaaah, tidaaakkk!, aku enggak mauuu,” teriak Nani. Air matanya meleleh. Benar memang dia harus membantu ibunya, tapi tidak seperti cara yang diwajibkan orang tuanya.
Waktu itu hari Ahad di akhir bulan September. Kalau ada istilah september ceria, bagi Nani September adalah pukulan buatnya.
Pasalnya tiga hari setelahnya dia harus menerima pinangan dari seorang kakek berumur 47 tahun. Salah satu orang terkaya di kampungnya. Dia mau dijadikan istri kelima sang kakek.
***
“Pak Rudi, anakmu cantik juga ya,” kata kakek Darmo kepada ayah Nani.
Ayah Nani hanya mengangguk dan wajahnya tampak pucat. Sang ayah sudah mulai paham maksud kakek Darmo.
Kakek Darmo memang kaya dan beberapa tahun ini sangat hobi menikahi anak gadis bau kencur.
“Rudi, ingat ya rumah dan pekaranganmu akan kusita kalau kamu tidak mampu melunasi hutang minggu depan. Kamu sudah molor dua bulan. Kali ini aku tidak ada toleransi lagi!,” kata mbah Darmo.
***
Malamnya, pak Rudi gelisah bukan kepalang. Dia memutar otak. Hutangnya sebesar 53 juta tidaklah banyak. Uang sebanyak itu dipinjamnya untuk keperluan pengobatan anaknya yang bungsu. Sayangnya, si bungsu sudah tidak tertolong lagi. Kecelakaan lalu lintas telah merenggut anak bungsunya saat membonceng sang ayah.
Rudi masuk ruang salat dan salat malam.
Dia tunaikan salat tahajud 8 rakaat lebih panjang dari biasanya.
Doanya memenuhi isi ruangan dan air matanya mengalir bak anak sungai. Dia menyesal. Bukan menyesal karena keluar uang banyak buat pengobatan anaknya, tapi menyesal kenapa harus meminjam kepada kakek Darmo, sang kaya raya dan rentenir terkaya di desanya. Saat itu pak Rudi tidak berpikir akibat pilihannya. Memang dia meminjam hanya 40 juta tapi karena sudah bertahun-tahun enggak bisa bayar maka ada bunga yang harus diberikan, yaitu 1 juta tiap tahunnya. Kalau hanya setahun wajar tapi ini sudah hampir 13 tahun.
Pak Rudi mengingat beberapa tahun silam. Waktu itu Nani masih berumur 5 tahun dan mempunyai dua orang adik. Kehidupan yang harmonis, berkecukupan walaupun tidak kaya menjadi sesuatu yang membahagiakan. Namun sayang, kecelakaan yang dia alami dengan anak bungsunya yang masih satu tahun itu menjadi titik balik kehidupan keluarga pak Rudi.
(Bersambung)
Komentar
Posting Komentar