SAAT IBU PERGI-2

Part 2

Baru sekitar seminggu kutinggalkan bangku sekolah, tak menyisakan lagi harapan untuk bisa melanjutkan sekolah. Saat itu Ibuku sedang hamil anak yang terakhir. Sudah hampir melahirkan dan aku sebagai anak perempuan tak punya pilihan lain selain membantu ibu.
“Nduk, hari ini kamu jangan pergi kemana-mana ya,” kata Simbok.
Nggih Mbok,” jawabku. “Kenapa mbok?”, tanyaku.
Ternyata simbok mau melahirkan dan memintaku memanggil dukun bayi langganannya.
Mbah, simbok badhe nglairke. Jenengan diaturi tindak dateng griya kula,” pintaku kepada mbah dukun.
Lalu mbah dukun segera datang ke rumah dan membantu proses persalinan simbokku. Anaknya lahir dengan selamat dengan jenis kelamin laki-laki. Bayinya cukup besar. Lalu dikasih nama “Sutrisno” artinya kasih sayang yang baik.
            Sejak adikku paling kecil lahir aku harus membantu simbok di rumah, tidak berjualan di pasar lagi. Hanya bapakku yang sesekali berangkat ke pasar. Aku harus menyiapkan makanan buat para tamu yang datang. Selain itu aku juga membantu menyuci popok yang menggunung.
            Walau tidak bisa sekolah dan hati sedih semua aku jalani saja. Aku sadar orang tuaku tidak mempunyai biaya untuk sekolahku. Untuk kebutuhan sehari-hari saja sangat terbatas.
            Ugik, aku pesen yo nduk. Adi-adine dijaga. Awakku sajak ora kepenak. Mumet ora karuan. “ Simbok bicara sambil memegang kepala dan tiba – tiba pingsan.
Lalu aku teriak-teriak minta tolong. Sedangkan bapakku masih di pasar Beringharjo sedang dalam perjalanan pulang. Para tetangga datang segera dan mengundang pak Mantri di desaku. Tapi nyawa simbokku sudah tidak bisa ditolong lagi.
Tangisku pecah seketika. Aku gendong adikku yang paling kecil yang baru genap berumur 6 bulan. Si kecilpun ikut menangis.
Dalam kondisi sekarang aku tidak punya pilihan. Aku harus mengasuh adikku yang paling kecil. Dengan penuh kasih sayang aku besarkan adik-adikku bersama bapakku. Akhirnya aku tidak berdagang lagi. Kembali aku kumpulin daun jati yang kupetik dari pekarangan. Sesekali aku kumpulkan juga kayu yang berserakan. Aku jual kepada pengrajin tempe langgananku.
Saat usia adik bungsuku satu tahun aku sangat sedih. Adikku yang kedua alias anak bapak yang keempat sakit keras. Dia terkena diare hebat dan muntah-muntah. Tak ayal lagi segala hal dilakukan bapak untuk menyelamatkan adikku yang bernama Misno. Akulah yang ikut wira wiri bapak ke klinik di Jogja.
Sungguh berat cobaan keluarga kami di tahun ini. Genap usiaku yang ketiga belas tahun harus ditinggal simbok dan adikku sakit keras. Adikku, Misno hampir menyusul ibuku. Beruntung Misno masih tertolong. Bapak terpaksa menjual salah satu pekarangan dan sawah miliknya. Maklum biaya pengobatan saat itu sangat mahal.
Aku semakin kasihan sama bapakku. Akhirnya aku putusin untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Walaupun demikian aku masih bisa mengasuh adikku yang bungsu. Kebetulan tempat kerjaku hanya di rumah orang terkaya di desaku. Rumahnya seberang jalan dari rumahku.
Gajiku tidak seberapa yang penting masih bisa untuk makan kami sehari-hari. Suatu hari majikanku hendak pergi naik haji. Aku harus menjaga rumahnya, alias tinggal di rumahnya untuk sementara waktu. Akupun izin mengajak adik bungsuku menginap. Untung saja diperbolehkan.
Dalam kesepian malam aku teringat akan simbokku yang sudah dua setengah tahun berlalu. Meninggalkan adik bungsuku yang kini genap berusia tiga tahun. Begitu beratnya bebannya, sehingga tak kuasa menahan kelelahan dan dipanggilNya saat kami masih kecil-kecil. Aku juga sangat lelah, tapi kuikhlas menjalani semua ini.
Sebagai seorang pembantu rumah tangga sangat melelahkan. Malam menjadi impianku karena bisa istirahat dan tertidur. Suatu hari aku tertidur dan pulas.
“. Nduk, kamu capek sekali?” kata simbok.
“Ya mbok, gak apa-apa sudah biasa,” sahutku.
Lalu simbok mendekatiku dan memijatku. Beliau tampak tersenyum dan berkata,” Ingat pesan simbok, jaga adi-adimu ya!”. Jangan menyerah jika ada masalah. Semua pasti ada jalan.
(bersambung)

#ODOP
#18september2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 11

Mengapa Saya Harus Menulis?

Gantungan Cinta