SAAT IBU PERGI-2
Part 2
#ODOP
#18september2018
Baru
sekitar seminggu kutinggalkan bangku sekolah, tak menyisakan lagi harapan untuk
bisa melanjutkan sekolah. Saat itu Ibuku sedang hamil anak yang terakhir. Sudah
hampir melahirkan dan aku sebagai anak perempuan tak punya pilihan lain selain
membantu ibu.
“Nduk,
hari ini kamu jangan pergi kemana-mana ya,” kata Simbok.
“Nggih Mbok,” jawabku. “Kenapa mbok?”,
tanyaku.
Ternyata
simbok mau melahirkan dan memintaku memanggil dukun bayi langganannya.
“Mbah, simbok badhe nglairke. Jenengan diaturi tindak dateng griya kula,”
pintaku kepada mbah dukun.
Lalu
mbah dukun segera datang ke rumah dan membantu proses persalinan simbokku.
Anaknya lahir dengan selamat dengan jenis kelamin laki-laki. Bayinya cukup
besar. Lalu dikasih nama “Sutrisno” artinya kasih sayang yang baik.
Sejak adikku paling kecil lahir aku
harus membantu simbok di rumah, tidak berjualan di pasar lagi. Hanya bapakku
yang sesekali berangkat ke pasar. Aku harus menyiapkan makanan buat para tamu
yang datang. Selain itu aku juga membantu menyuci popok yang menggunung.
Walau tidak bisa sekolah dan hati
sedih semua aku jalani saja. Aku sadar orang tuaku tidak mempunyai biaya untuk
sekolahku. Untuk kebutuhan sehari-hari saja sangat terbatas.
“Ugik,
aku pesen yo nduk. Adi-adine dijaga. Awakku sajak ora kepenak. Mumet ora
karuan. “ Simbok bicara sambil memegang kepala dan tiba – tiba pingsan.
Lalu aku
teriak-teriak minta tolong. Sedangkan bapakku masih di pasar Beringharjo sedang
dalam perjalanan pulang. Para tetangga datang segera dan mengundang pak Mantri
di desaku. Tapi nyawa simbokku sudah tidak bisa ditolong lagi.
Tangisku
pecah seketika. Aku gendong adikku yang paling kecil yang baru genap berumur 6
bulan. Si kecilpun ikut menangis.
Dalam
kondisi sekarang aku tidak punya pilihan. Aku harus mengasuh adikku yang paling
kecil. Dengan penuh kasih sayang aku besarkan adik-adikku bersama bapakku.
Akhirnya aku tidak berdagang lagi. Kembali aku kumpulin daun jati yang kupetik
dari pekarangan. Sesekali aku kumpulkan juga kayu yang berserakan. Aku jual
kepada pengrajin tempe langgananku.
Saat
usia adik bungsuku satu tahun aku sangat sedih. Adikku yang kedua alias anak
bapak yang keempat sakit keras. Dia terkena diare hebat dan muntah-muntah. Tak
ayal lagi segala hal dilakukan bapak untuk menyelamatkan adikku yang bernama
Misno. Akulah yang ikut wira wiri bapak ke klinik di Jogja.
Sungguh
berat cobaan keluarga kami di tahun ini. Genap usiaku yang ketiga belas tahun
harus ditinggal simbok dan adikku sakit keras. Adikku, Misno hampir menyusul
ibuku. Beruntung Misno masih tertolong. Bapak terpaksa menjual salah satu
pekarangan dan sawah miliknya. Maklum biaya pengobatan saat itu sangat mahal.
Aku
semakin kasihan sama bapakku. Akhirnya aku putusin untuk bekerja sebagai
pembantu rumah tangga. Walaupun demikian aku masih bisa mengasuh adikku yang
bungsu. Kebetulan tempat kerjaku hanya di rumah orang terkaya di desaku.
Rumahnya seberang jalan dari rumahku.
Gajiku
tidak seberapa yang penting masih bisa untuk makan kami sehari-hari. Suatu hari
majikanku hendak pergi naik haji. Aku harus menjaga rumahnya, alias tinggal di
rumahnya untuk sementara waktu. Akupun izin mengajak adik bungsuku menginap.
Untung saja diperbolehkan.
Dalam
kesepian malam aku teringat akan simbokku yang sudah dua setengah tahun
berlalu. Meninggalkan adik bungsuku yang kini genap berusia tiga tahun. Begitu
beratnya bebannya, sehingga tak kuasa menahan kelelahan dan dipanggilNya saat
kami masih kecil-kecil. Aku juga sangat lelah, tapi kuikhlas menjalani semua
ini.
Sebagai
seorang pembantu rumah tangga sangat melelahkan. Malam menjadi impianku karena
bisa istirahat dan tertidur. Suatu hari aku tertidur dan pulas.
“. Nduk,
kamu capek sekali?” kata simbok.
“Ya
mbok, gak apa-apa sudah biasa,” sahutku.
Lalu
simbok mendekatiku dan memijatku. Beliau tampak tersenyum dan berkata,” Ingat
pesan simbok, jaga adi-adimu ya!”. Jangan menyerah jika ada masalah. Semua
pasti ada jalan.
(bersambung)
(bersambung)
#18september2018
Komentar
Posting Komentar