Resign Reni - Part 1
Aku,
Reni Kusumawati sudah tercatat selama 7 tahun sebagai buruh pabrik konveksi di
Jakarta. Sedangkan suamiku hanyalah seorang buruh bangunan.
Aku
mendadak lemas. Wajahku seperti kertas putih dan badanku menggigil. Memang
sudah dari kemarin siang aku belum makan. Sepertinya nafsu makanku lenyap
begitu saja. Sejak aku mempunyai debay aku seperti orang bingung. Kondisi
perekonomian keluarga yang masih belum stabil mendorongku untuk terus bekerja.
Akan tetapi si bayi mungilku tidak ada yang mengasuh. Kami jauh dari orang tua,
merantau di keramaian kota Jakarta.
“Aku enggak mau ke luar dari pekerjaanku Mas!”
suaraku sangat keras. Dalam kondisi lemas aku masih saja berteriak. Suamiku
menghendaki diriku untuk resign dari pabrik dan mengasuh bayi kecil kami.
Aku
selalu menolak jika diminta resign. Sebenarnya suamiku, mas Rudi sudah
memintaku sejak awal menikah dan seringkali membujukku. Memang sudah 2 kali aku
keguguran dan mas Rudi semakin kuat menyuruhku resign. Aku tetap bertahan.
Alhamdulillah di kehamilan ketiga, Allah kasih kemudahan kami mendapatkan
momongan.
Kali
ini mas Rudi mulai membujukku lagi dengan kelembutan sikapnya. Tapi aku selalu
bersikeras. Sungguh berat bagiku untuk memutuskan resign dalam kondisi
perekonomian yang belum stabil dan kenaikan harga barang – barang yang sangat
tajam.
“Ren,
kamu sudah menjadi seorang ibu. Apakah kamu enggak kasihan dengan Iffah, anak
kita yang lucu itu?”kata mas Rudi.
Suaraku
mulai merendah. Aku menangis.
“Maafkan
aku mas. Tapi aku bingung mas, bagaimana kondisi keuangan kita nanti kalau aku
berhenti bekerja,” keluhku.
“Apakah
kamu sadar dengan perkataanmu. Ingat ada Allah yang selalu menjamin rezeki bagi
makhlukNya,” nasehat suamiku.
Suara
lembutnya seperti meruntuhkan keegoisanku. Akhirnya kuambil air wudlu untuk
menenangkan diri. Kurebahkan tubuhku dalam pangkuan suamiku. Sedangkan si bayi
mungilku sedang menikmati buaian malam, terlihat pulas dan tersenyum.
Dede
Iffah seakan tersenyum dan menyemangatiku untuk mempertimbangkan saran ayahnya.
Suamiku
mengelus rambutku, lalu bilang,” Jangan lupa istirahat dan salat malam!.
Sekarang tidurlah,” kata mas Rudi
(bersambung)
#TantanganODOP3#onedayonepost#odopbatch6#fiksi#cerpenPOV1
Komentar
Posting Komentar