Hantu Bagi Raisya, Kini Sudah Pergi


 Design kebahagiaan seorang wanita bukanlah dikarenakan orang lain.
Kebahagiaan seorang wanita ketika mulai mengenal diri sendiri dan tahu apa yang terbaik buat dirinya.



Dari kecil Raisya memang dipanggil “gurune” oleh seorang pekerja seni di desanya. Semua berawal karena bapaknya adalah seorang guru. Raisya mengenal sosok bapaknya melalui surat bapaknya yang tertuju buat ibunya dan beberapa buku peninggalannya. Raisya bahagia sekali bisa bertemu bapaknya. Saat itu Raisya masih kelas 5 SD. Bapaknya mengajaknya berkeliling di kota kecil tempat kelahiran Raisya.

Setahun kemudian kebahagiaan itu terkubur bersama kisah yang membuatnya pilu. Berganti dengan tangisan sendu dalam setiap malam Raisya.
“Kenapa kamu menangis nduk?”,ibunya Raisya bertanya.

Raisya hanya terus terisak dan mendekap erat bantal gulingnya.
“Surat kelahiranku, tanpa ada nama bapak, hanya goresan merah di kertas surat itu”, akhirnya Raisya mau bicara.

Suasana mencekam. Tampak ibunya memandang anak bungsunya itu sambil berurai air mata.
“Engkau tetap anak bapakmu nduk, meskipun tidak ada selembar kertas yang menuliskannya. Semua orang tahu itu. Kamu anak baik, kamu pinter. Besok kalau kamu sudah besar bisa ke tempat bapakmu. Di sana kamu juga akan bertemu kakak kandungmu. Semua orang tak menyalahkanmu. Kamu jangan sedih ya”, ibu Raisya mencoba menghibur anaknya.
Sejak kewajiban mengumpulkan surat lahir. Batin Raisya resah, rasa gundah, rendah diri menjadi pembentuk kepribadianku.

Pada masa SD Raisya anak yang aktif, yang diikutsertakan dalam setiap momen perlmbaan yang mewakili sekolah. Namun sejak SMP sampai kuliah hantu surat kelahiran terus mengusiknya dan membuatnya pendiam dan kurang percaya diri.

Sampai-sampai didekati lawan jenispun merasa tak percaya diri.
Untung saja dia selalu merasa ada  Alloh yang mengerti dirinya. Raisya selalu bersyukur selalu ingat dengan ayatNya bahwa Allah tidak akan membebani seseorang sesuai kesanggupannya.
Karena AllahlahRaisya merasa kuat dan terus melangkah.

Selepas kuliah Raisya mulai menemukan kepingan perasaannya yang terkadang tercabik, tergores luka oleh masa lalu orang tuanya.

Tapi Raisya tetap menghormati keduanya, tak ada dendam atau kemarahan sedikitpun kepada bapaknya. Raisya tetap bangga akan bapaknya, karena dari buku-buku peninggalan beliaulah ia jadi penggemar matematika.

Namun perkembangan psikologi remaja sang Raisya mengalami hambatan yang luar biasa. Potensinya seolah menyusut mengikuti peristiwa yang dialaminya. Tegang, sedih, nestapa luar biasa yang sering dirasakan Raisya.

Bertahun-tahun Raisya merasakan kesendirian dan kesedihan. Hingga akhirnya dia menemukan seorang sahabat bernama Vivi. Vivi sering mengajak nonton film dan berjalan-jalan menikmati indahnya kota Jogja. Semangat dan gairah hidup Raisya mulai terbangun. Kepercayaan dirinya mulai tumbuh. Cukup terlambat memang, karena Raisya sudah berusia 25 tahun. Tapi masih disyukuri oleh Raisya. Dia menemukan dirinya kembali yang telah tenggelam dalam ombak kehidupan yang membuat dia jatuh bangun. Bahkan dia pernah ingin bunuh diri. 

Raisya mulai berani dan memantaskan diri untuk membahagiakan diri sendiri. Dia semakin sadar bahwa harus menyayangi diri sendiri, bersyukur dengan selalu bergerak. Setelah itu Raisya akan bisa memancarkan energi positif bagi sekitarnya.

Terlebih lagi saat episode baru harus dilaluinya. Lamaran seseorang yang sudah pernah dia kenal.
Beliaulah laki-laki yang dengannya Raisya percaya mampu menerima apa adanya.
Babak barupun mulai. Raisya menikah dan teramat cepat dikaruniai putera yang lucu dan menggemaskan. Selang sebulan setelah pernikahan Raisya dinyatakan positif hamil.

Tapi Raisya merasa batinnya mulai tergoncang lagi, karena dia tidak boleh bekerja oleh suamiku.
Memang dia Raisya. Yang selalu berusaha mencari hikmah dalam setiap problem yang dihadapinya. Akhirnya dia menyibukkan diri dengan mendirikan sebuah bimbingan belajar bersama suaminya. 
Dia ingin menebar ilmu, agar ilmu yang kuperoleh tidak berlalu begitu saja. Walau ada yang hanya membayar dengan segunung janji-janji, yang terkadang menguji keikhlasan Raisya dalam berbagi ilmu.

Mulailah Raisya memilih bahagia walau ada kerikil tajam yang terkadang menggoreskan luka dalam kehidupannya. Raisya selalu menyuarakan batinnya,” Engkau pantas bahagia, lakukan apa aja yang engkau mau. Lakukan yang terbaik buat dirimu”. Salah satu yang membuat Raisya bahagia, suaminya selalu berusaha mengajak berpikir positif.

#ODOP 
#Day 3
 #Kisah Inspiratif






Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 11

Mengapa Saya Harus Menulis?

Gantungan Cinta