Resign Reni - Enggak Jadi Tamat
Kehadiran si bayi mungilku sungguh menguras tenaga dan pikiranku. Jujur baru kali ini aku mendapat manah dari Allah. Mungkin beberapa tahun sebelumnya aku belum dipercaya untuk memegang peran sebagai seorang ibu.
Hariku mulai kunikmati dengan mengasuh dede Iffah. Anak yang kami rindukan pun hadir memecah kesunyian dalam rumah kami. Rumah yang masih status mengontrak.
“Alhamdulillah, lega ya Bun sudah memilih jalan ini?,” kata suamiku di hari pertama aku mengundurkan diri dari perusahaan/pabrik tempat aku bekerja.
“ Iya Ayah, terima kasih tidak lelah menasehatiku. Semoga ini jalan terang yamg sudah Allah pilihkan buat keluarga kita. Fokus pada masa depan kita, yaitu anak kita,” sahutku.
Mas Rudi pun pamit untuk bekerja serabutan sebagai tukang ojek online. Suamiku memang pekerja keras. Dia sisihkan sebagian kerjanya untuk kuliah di bidang IT untuk kelas karyawan. Diapun mengotak – atik komputer. Dia ambil bidang khusus programmer. Keahlian khusus mengenai dunia internet marketing juga mulai dia pelajari.
Kami sadar zaman sekarang adalah era global dan digital. Mungkin ini awal kehidupan kami, membuat hidup kami lebih mapan dengan ilmu pengetahuan. Memang berat di awal karena harus berinvestasi waktu, tenaga dan pikiran serta biaya yang tidak sedikit.
Akupun terkadang ikut-ikutan belajar tentang komputer. Karena anakku masih kecil jadi banyak waktu kosong yang bisa kuisi dengan kegiatan positif dari rumah. Seperti yang sudah kukatakan, aku ingin berdaya dari rumah.
Karena aku dan suami jauh dari rumah alias merantau. Maka kami hanya bisa berkomunikasi dengan orang tua lewat HP.
Suatu hari ibu mertuaku telepon. “Lagi apa Nduk?” kata beliau.
“Lagi momong dede Bu,” jawabku.
“Lha emang enggak kerja?, kan cutimu sudah berakhir?” kata beliau.
“Iya Bu, tapi saya resign dari kerja di pabrik,” jelasku.
“Apa??? Resign? Apa kuwi?” kata ibu mertua.
“Saya sudah enggak kerja bu, di rumah saja,” lanjutku.
Suara orang bergumam terdengar di seberang telepon. Sepertinya suara kakak iparku.
“O, ya udah. Kayak gitu dulu ya,” tiba-tiba ibu mertua menutup teleponnya.
Aku bingung ada apa dengan ibu mertuaku. Tampaknya beliau kaget dan tidak suka mendengar aku tidak bekerja lagi.
( Bersambung)
#ODOPbatch6
Hariku mulai kunikmati dengan mengasuh dede Iffah. Anak yang kami rindukan pun hadir memecah kesunyian dalam rumah kami. Rumah yang masih status mengontrak.
“Alhamdulillah, lega ya Bun sudah memilih jalan ini?,” kata suamiku di hari pertama aku mengundurkan diri dari perusahaan/pabrik tempat aku bekerja.
“ Iya Ayah, terima kasih tidak lelah menasehatiku. Semoga ini jalan terang yamg sudah Allah pilihkan buat keluarga kita. Fokus pada masa depan kita, yaitu anak kita,” sahutku.
Mas Rudi pun pamit untuk bekerja serabutan sebagai tukang ojek online. Suamiku memang pekerja keras. Dia sisihkan sebagian kerjanya untuk kuliah di bidang IT untuk kelas karyawan. Diapun mengotak – atik komputer. Dia ambil bidang khusus programmer. Keahlian khusus mengenai dunia internet marketing juga mulai dia pelajari.
Kami sadar zaman sekarang adalah era global dan digital. Mungkin ini awal kehidupan kami, membuat hidup kami lebih mapan dengan ilmu pengetahuan. Memang berat di awal karena harus berinvestasi waktu, tenaga dan pikiran serta biaya yang tidak sedikit.
Akupun terkadang ikut-ikutan belajar tentang komputer. Karena anakku masih kecil jadi banyak waktu kosong yang bisa kuisi dengan kegiatan positif dari rumah. Seperti yang sudah kukatakan, aku ingin berdaya dari rumah.
Karena aku dan suami jauh dari rumah alias merantau. Maka kami hanya bisa berkomunikasi dengan orang tua lewat HP.
Suatu hari ibu mertuaku telepon. “Lagi apa Nduk?” kata beliau.
“Lagi momong dede Bu,” jawabku.
“Lha emang enggak kerja?, kan cutimu sudah berakhir?” kata beliau.
“Iya Bu, tapi saya resign dari kerja di pabrik,” jelasku.
“Apa??? Resign? Apa kuwi?” kata ibu mertua.
“Saya sudah enggak kerja bu, di rumah saja,” lanjutku.
Suara orang bergumam terdengar di seberang telepon. Sepertinya suara kakak iparku.
“O, ya udah. Kayak gitu dulu ya,” tiba-tiba ibu mertua menutup teleponnya.
Aku bingung ada apa dengan ibu mertuaku. Tampaknya beliau kaget dan tidak suka mendengar aku tidak bekerja lagi.
( Bersambung)
#ODOPbatch6
Hiks, bacanya kok aku jadi ikut sedih ya mba 😫
BalasHapus