TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 7


Dalam masa remajaku, aku aktif di kegiatan sinoman dan karawitan.
“Nduk, namamu siapa?” tanya seorang laki-laki ganteng, yang pintar main gamelan jawa. Dia mempunyai rebab dan sering ikut memainkan dengan kami di grup karawitan.
“Saya Ugik mas”, jawabku.
Tampak dia manggut-manggut.
Sejak itu dia sering melirikku dan melempar senyum padaku.
Aku sangat malu. Kuakui dia ganteng dan berbadan bersih. Tapi dia bukan orang asli desaku. Namanya mas Ken Jenar. Seorang guru honorer di SMP negeri dekat rumahku. Dia asal Ponorogo, Jawa Timur. Jauh sekali.
Meskipun jarang mengobrol dia terlihat menyukaiku. Kala itu belum ada telepon dan HP. Suatu hari mas  mengirim surat kepadaku, dia kirimkan lewat Kang Jono pemilik rumah tempat dia kos. Di rumah Kang Jonolah aku bertemu pertama kali dengan mas Jenar. Rumah kang Jono kebetulan sebagai pusat kegiatan sinoman dan rumah sebelahnya sebagai tempat aktivitas pemuda dan warga belajar seni karawitan.
Aku sering membaca suratnya, surat cinta dari seorang guru muda. Guru matematika. Dia selisih lima belas tahun dengannya. Tapi sungguh dia masih tampak muda, mungkin karena keturunan orang berada. Dari cerita kang Jono, bapaknya adalah seorang kepala sekolah SR. Ah sudahlah, tak  perlu banyak tahu.
Meskipun dia sering kirim surat padaku, aku gak pernah membalasnya. Sesekali aku hanya tersenyum jika bertemu dengannya. Diapun jarang bicara denganku. Mungkin dia menganggap aku tak peduli padanya. Bukannya aku tak peduli, tapi mana mungkin aku bisa menerima dia. Pastilah dia anak orang kaya. Aku hanya lulusan SD sedangkan dia anak kuliahan.
Aku ingat surat pertamanya padaku.
Jogja, 12 Juli 1975
Teruntuk : Gadis hitam manis
Malam ini aku tidak bisa tidur. Aku terus terbayang wajahmu, yang sedikit menyimpulkan senyum.
Bolehkah aku mengenalmu wahai gadis hitam manis?
Jangan biarkan diriku, hanya bisa menatapmu dari jauh. Izinkah aku menjadi pelindungmu.
Gadis hitam manis, aku hidup di sini sendiri. Merantau dari kejauhan, sebuah desa di Jawa Timur.
Ratusan ribu kilometer kutempuh, hingga kumenemukanmu.
Jangan biarkan diriku sendiri. Jangan pula engkau menikah dengan yang lain.
Jika engkau menikah dengan yang lain, aku tak rela dan aku sanggup menunggu jandamu.
Semua ini tulus dari batinku.

Yang Tresna Sliramu
Ken Jenar

#bayarutang
#ODOPbatch6

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 11

Mengapa Saya Harus Menulis?

Gantungan Cinta