TAKDIRKU, ISTRI SIRI - part 12
“Yu, kenapa? Haduh metu getihe. “Kata adikku, Sutris.
“Yu, ini getah tanaman Yodium”, Sutris
berlari mencari getah pohon Yodium di halaman rumah. Segera kuoles luka yang
berada di lututku.
Nasibku
hari ini, sepertinya kurang beruntung. Semalaman aku merintih menahan sakitnya
lututku. Luka di lutut biasanya bertahan lama.
“Nduk,
cepat tidur besok siang kamu harus ikut menerima tamu”, bapak menengokku ke
kamar.
“Nggih
pak,” aku anggukkan kepala.
“Sreeek!”
bapak pelan-pelan menutup pintu kamarku lalu segera menyalakan radio
kesayangannya. Bapak selalu mendengarkan berita dan mendengar cerita wayang.
Kala
itu wayang masih menjadi tontonan sangat istimewa di desaku. Hanya orang-orang
kaya saja yang bisa nanggap wayang
kala hajatan.
Matahari
setia menampakkan diri dan selalu berusaha menerangi kehidupan ini. Tiada
mendung tampak di langit yang putih. Sungguh cerah, tapi tidak secerah batinku
yang sedang gelisah.
“Thok
thok... Kula nuwun”, suara bapak-bapak terdengar dari luar rumah.
Bapak
datang dari dapur,”Monggo-monggo pak
lenggah rumiyin”. Lalu kuintip dari balik tirai pintu, kulihat pak Radi
dengan seorang pemuda dengan rambut agak gondrong.
Denyut
jantungku tiba-tiba sangat kencang. Berbeda sekali penampilannya dengan mas
Kentig. Meskipun tampak sama-sama ganteng tapi sedikit kurang terawat.
Batinku
bergejolak, “apakah dia calon suamiku?”
Lalu
datang pak RT, yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari rumahku, namanya pak
Parno.
“Oh,
sudah lama pak? Perkenalkan saya Parno, Ketua RT 007 wilayah sini”, kudengar
pak Parno memperkenalkan diri.
Selain
itu datang juga dua tetangga yang lain.
Dalam
pertemuan itu aku tidak boleh ikut. Perempuan hanya boleh bertemu calon suami saat menjelang pernikahan.
Aku
berada di kamar, sambil tiduran. Sedangkan makanan untuk para tamu sudah
disiapkan oleh tetangga yang rewang.
Selesai
acara lamaran,” Nduk, lha malah tiduran. Sing
sumringah arep nikah ki!”.
Sontak
aku kaget dan terbangun. “Nggih Pak”, menjawab sapaanbapak.
Lalu
bapak menceritakan bahwa acara lamaran sudah selesai. Akhirnya kudengar dari
bapak,” Nduk tiga bulan lagi kamu akan menikah. Tindak-tandukmu yang benar, dijaga”.
Tepat
hari Senin, 15 Juni 1976 akupun menikah. Menikah dengan laki-laki pilihan
bapakku. Namanya Sartono. Pemuda asal kecamatan sebelah, yang berada di bukit
Menoreh.
Sehari
setelah pernikahan aku diboyong ke rumah mertuaku. Suasana baru, kondisi tanah
yang naik turun membuatku cukup lelah. Karena untuk mengambil air saja harus ke
belik yang letaknya cukup jauh.
Aku
tinggal di dekat rumah mertuaku, dua rumah dari rumah simbahku.
“Nduk,
gak usah sungkan-sungkan di sini. Kalau ingin memasak berasnya di gentong itu.”
Kata mertua laki-lakiku.
Lain
lagi dengan mertua perempuanku.
“Nduk,
di sini kamu harus mau bantuin aku. Jangan enak-enak saja,” suara pertama
mertua perempuanku.
“Sreet”,
tiba-tiba dadaku sesak tak karuan.
Tak
pernah kubayangkan bertemu sosok wanita yang bagiku bagai hantu perempuan di
siang bolong.
Beda
sekali dengan mendiang ibuku, yang lembut tak pernah bersuara keras. Sama
sekali tak pernah memarahiku.
Komentar
Posting Komentar