TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 10
“Memang
mas Gunadi gimana Nan?” kataku.
“Halah embuh, udu jodohku Gik. Sepulang
dari sini, mas Gun sebenarnya ingin melamarku. Tapi ternyata orang tuanya tidak
setuju. Dia dijodohkan dengan gadis sekampungnya. Bapaknya ingin mempunyai
menantu yang dekat.”Kata Nani.
“Maklumlah,
mas Gun kan memang rumahnya jauh di Sulawesi. Harus menempuh beberapa hari dari
sini dengan perjalanan laut kalau ke rumahnya. Terakhir dia kirim surat tiga
bulan yang lalu. Dia kabarkan pernikahannya dan permohonan maafnya”.
“Terus
kamu gimana Nan?” tanyaku serasa lupa masalahku.
“Iya
gak apa-apa emang bukan jodohku?”, lanjut Nani.
“Oh
ya terus kamu gimana Gik, mau nerima dijodohin?,” Nani kembali ke masalahku.
“Menurutmu
gimana Nan?” kembali aku bertanya.
“Ya,
terima saja, mungkin itu jodohmu. Daripada kelamaan nunggu pangeranmu?”,
sambung Nani.
Nani
sepertinya paham akan perasaanku. Memang dia adalah sahabatku satu-satunya yang
kuceritain masalah pribadiku.
Mendengar
perkataan Nani, aku mengernyitkan dahi.
Mulai
mempertimbangkan tawaran perjodohan ini.
“Emang
akan segera dilamar apa gimana Gik?” Nani melanjutkan pembicaraan.
“Iya
Nan, kata bapak besok Bapak bertemu temannya dan seminggu kemudian akan
diadakan acara lamaran”, kataku.
“Lah..
cepat juga ya. Udah gak apa-apa jalani saja Gik”, kata Nani.
“Jadi
kamu setuju Nan”, sahutku.
“Ya,
setuju-setuju saja. Lha yang penting kamu yang menjalani”, kata Nani, “ Kalau
kamu berani menolak bapakmu ya gak apa-apa”.
“Aku
gak berani Nan”, kataku sambil membayangkan kalau bapak marah.
“Nan,
udah sore mau maghrib nanti aku dicari bapakku. Tak pulang dulu ya”, pamitku.
“Yo wis kono, siap-siap dadi pengantin yo..
Aja lali karo aku,” kata Nani sambil terkekeh.
Lalu
aku berjalan menuju rumah sambil tidak bisa lepas memikirkan perjodohan itu.
***
Kembali
aku bertemu malam. Di langit tampak cerah, sang raja malam yang menampakkan
seluruh bagian tubuhnya tampak tersenyum padaku.
Sorak-sorai
anak-anak bermain di jalan samping rumahku mengingatkanku akan masa kecil.
Kebiasaan di desaku, kalau bulan terang, atau purnama anak-anak berkumpul dan
bermain. Sedangkan para orang tua juga ada yang menemani, mereka menggelar
tikar dan mengobrol santai.
Maklum
suasana desa memang begitu damai, jarang ada kesibukan kecuali ada hajatan atau
tontonan.
#bayarutang#ODOPbatch6
Komentar
Posting Komentar