TAKDIRKU, ISTRI SIRI - Part 3


Dalam kondisi sekarang aku tidak punya pilihan. Aku harus mengasuh adikku yang paling kecil. Dengan penuh kasih sayang aku besarkan adik-adikku bersama bapakku. Akhirnya aku tidak berdagang lagi. Kembali aku kumpulin daun jati yang kupetik dari pekarangan. Sesekali aku kumpulkan juga kayu yang berserakan. Aku jual kepada pengrajin tempe langgananku.
Saat usia adik bungsuku satu tahun aku sangat sedih. Adikku yang kedua alias anak bapak yang keempat sakit keras. Dia terkena diare hebat dan muntah-muntah. Tak ayal lagi segala hal dilakukan bapak untuk menyelamatkan adikku yang bernama Misno. Akulah yang ikut wira wiri bapak ke klinik di Jogja.
Sungguh berat cobaan keluarga kami di tahun ini. Genap usiaku yang ketiga belas tahun harus ditinggal simbok dan adikku sakit keras. Adikku, Misno hampir menyusul ibuku. Beruntung Misno masih tertolong. Bapak terpaksa menjual salah satu pekarangan dan sawah miliknya. Maklum biaya pengobatan saat itu sangat mahal.
Aku semakin kasihan sama bapakku. Akhirnya aku putusin untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Walaupun demikian aku masih bisa mengasuh adikku yang bungsu. Kebetulan tempat kerjaku hanya di rumah orang terkaya di desaku. Rumahnya seberang jalan dari rumahku.
Gajiku tidak seberapa yang penting masih bisa untuk makan kami sehari-hari. Suatu hari majikanku hendak pergi naik haji. Aku harus menjaga rumahnya, alias tinggal di rumahnya untuk sementara waktu. Akupun izin mengajak adik bungsuku menginap. Untung saja diperbolehkan.
Dalam kesepian malam aku teringat akan simbokku yang sudah dua setengah tahun berlalu. Meninggalkan adik bungsuku yang kini genap berusia tiga tahun. Begitu beratnya bebannya, sehingga tak kuasa menahan kelelahan dan dipanggilNya saat kami masih kecil-kecil. Aku juga sangat lelah, tapi kuikhlas menjalani semua ini.
Sebagai seorang pembantu rumah tangga sangat melelahkan. Malam menjadi impianku karena bisa istirahat dan tertidur. Suatu hari aku tertidur dan pulas.
“. Nduk, kamu capek sekali?” kata simbok.
“Ya mbok, gak apa-apa sudah biasa,” sahutku.
Lalu simbok mendekatiku dan memijatku. Beliau tampak tersenyum dan berkata,” Ingat pesan simbok, jaga adi-adimu ya!”. Jangan menyerah jika ada masalah. Semua pasti ada jalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 11

Mengapa Saya Harus Menulis?

Gantungan Cinta