TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 8
Baru
pertama kali aku mendapatkan surat cinta. Aku simpan surat itu. Aku tertawa
sendiri, bahagia. Cinta mungkin sudah mulai memasuki alam batin dan jiwaku.
Suatu
hari, melalui suratnya mas Ken Jenar mengabarkan akan pulang ke kampung
halamannya agak lama. Karena ibunya sakit keras. Kerjanya sebagai guru honorer
sementara cuti.
Dia
akan kembali setelah ibunya membaik.
Aku
seperti kehilangan cahaya hidup. Aku tak pernah menemukannya dalam kegiatan
belajar seni karawitan.
Merindu.
Aku
mulai merasakan kerinduan yang mendalam. Entah harus diobati dengan apa.
Aku
sering melamun. “ kenapa kamu melamun Nduk?”, kata kakakku.
“Mikirke mas Jenar yo. Uwis rasah dipikirke.
Ra mungkin dewekke mrene maneh. Paling mulih mung arep rabi”, kata kang
Joko.
Kakakku
memang tahu aku sering dikirimi surat cinta dari mas Jenar. Tapi kata dia, aku
hanya akan bermimpi. Karena selain mas Jenar orang jauh juga past anak orang
kaya, tidak mungkin hubungan kami direstui.
Aku
buang sedikit demi sedikit rasa yang mulai berkembang menjadi bunga kerinduan
ini. Aku mulai menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang aku sukai. Selain
menjahit, aku juga suka merajut membuat kerajinan dari kain yang disulam. Salah
satunya telapak meja.
Part
3
PERJODOHANKU
Angin
semilir, menyapu kulitku hingga bulu kudukku berdiri. Langitpun menampakkan
kegelapan dan kilat menyambar-nyambar.
Ada
rasa yang bergelombang merasakan kekuasaanNya, naik turun terkadang merasakan
ketakutan. Akankah langit mendung menjadi hujan. Seperti hatiku yang sedang
diselimuti awan kerinduan, akankah terus tertahan. Ataukah hujan akan turun
menyampaikan rasa rindu ini kepada pemilik kata cinta yang pernah tersemat
dalam suratnya. Rasa cinta yang terlihat dalam manik matanya dan senyumnya.
Akupun
kembali memeluk malam. Dengan harap mimpi bertemu dengannya. Alam mimpi yang
tidak nyata. Mimpi yang hanya menimbulkan harapan semu. Benar kata kakakku, aku
tak mungkin bersanding dengan dirinya, seorang anak rantau yang beberapa blan
tak ada kabar.
“Nduk,
lagi ngopo? Mrene bapak arep ngomong. “ Kata bapakku di malam yang mendung itu.
“Iya
pak, ada apa pak?” jawabku sambil mendekat ke bapak.
“
Nduk, umurmu sudah hampir sembilan belas tahun”, kata beliau.
“Apa
gak kepikiran untuk menikah?”, lanjut bapak, “ kamu sudah layak menikah, bahkan
wajib nduk. Mengingat teman-temanmu juga sudah menikah.”
“Iya
pak,” kataku hanya sepatah kata.
Mendengar
pertanyaan bapakku, akupun bertanya-tanya ada apa sepertinya bapak berkata
serius.
#bayarutang#ODOPbatch6
Komentar
Posting Komentar