TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 4
Aku
terbangun, dan tidak menemukan simbok. Ku cari adikku yang bungsu. Tampak dia
masih tertidur di sampingku. Kupandang adikku, aku berharap dia tidak
sepertiku. Dia harus sekolah lebih tinggi dariku. Walau badai menghadang, angin
menerpa dia nanti harus berhasil.
Dukaku
akan kehilangan ibu masih terlalu dalam. Terkadang aku menangis, ingin rasanya
bertemu. Tapi semua tinggal khayalan. Terkubur sudah jasad beliau bersama
impianku untuk melanjutkan sekolah.
Kubuka
lembar demi lembar hidupku yang baru, tanpa ibu dengan adik yang cukup banyak.
Sejak kepergian beliau hidupku sedikit terkuras dengan pikiran negatif.
“Nduk,
kenapa kamu melamun?’ kata bapak.
“Gak
apa-apa pak. Ugik hanya teringat mendiang ibu”, aku menjawab dengan sedikit
serak karena semalaman aku menangis, teringat akan ibu.
“Bapak
mengerti Nduk, tapi jangan biarkan dirimu melamun terus tanpa melakukan apa-apa
ya. Masih banyak orang yang lebih menderita dan bersedih daripada kamu,” kata
bapak.
“Iya
pak, saya paham,” aku lihat bapak juga memancarkan kesedihan yang mendalam.
Tapi beliau tampak tegar karena sadar akan tanggung jawabnya menghidupi ke
delapan anaknya, termasuk aku.
Berbagai asaku pergi, tapi akan
kuraih asa-asa yang lain selagi aku masih bernapas. Batinku terus menggelora,
menyemangati jiwa yang sedikit kosong. Dalam gelora batin aku mulai memilah dan
memilih apa yang harus kuperbuat selanjutnya. Menapaki jalan hidupku, yang
entah penuh liku atau lurus-lurus saja.
Kurajut kembali asaku, saat melihat
bapak yang nampak lelah. Sesekali bapak batuk dan sesak napas karena beliau
mempunyai penyakit asma. Bapak sekarang tidak berdagang lagi, kerjanya lebih
fokus ke sawah. Sesekali beliau juga manjat pohon kelapa, nderes mencari air legen kelapa untuk dibuat gula Jawa. Aku turut
membantunya. Menmasaknya dan mencetaknya dalam cetakan dari batok kelapa.
Bapak juga mengambil daun kelapa,
dipilahnya lidinya dan dibuat sapu. Dijual demi menyambung hidup kami, agar
bisa makan sesuap nasi setiap hari. Terutama buat adik-adikku. Kalau aku
sendiri meskipun sedikit sudah mempunyai penghasilan.
Memang pekarangan bapak cukup luas.
Kami bisa menanam berbagai tanaman. Kondisi tanah masih subur karena memang
diolah dengan baik. Sebagian ditanami pohon pisang, kacang tanah dan jagung.
Dari pohon kelapa kami bisa panen hampir setiap bulan. Akan ada orang yang
datang, memborong buah kelapanya. Dahan pohon kelapa yang kering juga biasa
kami jual.
#ODOPbatch6
Komentar
Posting Komentar