TAKDIRKU, ISTRI SIRI - Part 2

Selain aku, adik tepat di bawahku alias anak ketiga bapakku juga ikut berdagang. Kami hanya selisih satu tahunan. Walaupun demikian akulah yang sangat berperan besar membantu orang tuaku. Maklum aku anak perempuan pertama. Semua kujalani demi baktiku pada orang tua.
Dalam diamku, aku selalu berharap bisa meringankan beban orang tuaku. Aku sendiri hidup sebagai orang Jawa tulen. Pendidikan agama hanya sebatas di sekolah, tidak pernah melakukan ibadah sesuai ajaran Islam seperti shalat dan zakat. Kalau zakat karena kami memang tak mampu berzakat. Aku berdoa dalam batinku tidak saat shalat. Setelah meninggalkan bangku sekolah tentu pendidikan agama tidak pernah aku dapat.
Baru sekitar seminggu kutinggalkan bangku sekolah, tak menyisakan lagi harapan untuk bisa melanjutkan sekolah. Saat itu Ibuku sedang hamil anak yang terakhir. Sudah hampir melahirkan dan aku sebagai anak perempuan tak punya pilihan lain selain membantu ibu.
“Nduk, hari ini kamu jangan pergi kemana-mana ya,” kata Simbok.
Nggih Mbok,” jawabku. “Kenapa mbok?”, tanyaku.
Ternyata simbok mau melahirkan dan memintaku memanggil dukun bayi langganannya.
Mbah, simbok badhe nglairke. Jenengan diaturi tindak dateng griya kula,” pintaku kepada mbah dukun.
Lalu mbah dukun segera datang ke rumah dan membantu proses persalinan simbokku. Anaknya lahir dengan selamat dengan jenis kelamin laki-laki. Bayinya cukup besar. Lalu dikasih nama “Sutrisno” artinya kasih sayang yang baik.
            Sejak adikku paling kecil lahir aku harus membantu simbok di rumah, tidak berjualan di pasar lagi. Hanya bapakku yang sesekali berangkat ke pasar. Aku harus menyiapkan makanan buat para tamu yang datang. Selain itu aku juga membantu menyuci popok yang menggunung.
            Walau tidak bisa sekolah dan hati sedih semua aku jalani saja. Aku sadar orang tuaku tidak mempunyai biaya untuk sekolahku. Untuk kebutuhan sehari-hari saja sangat terbatas.
            “Ugik, aku pesen yo nduk. Adi-adine dijaga. Awakku sajak ora kepenak. Mumet ora karuan. “ Simbok bicara sambil memegang kepala dan tiba – tiba pingsan.
Lalu aku teriak-teriak minta tolong. Sedangkan bapakku masih di pasar Beringharjo sedang dalam perjalanan pulang. Para tetangga datang segera dan mengundang pak Mantri di desaku. Tapi nyawa simbokku sudah tidak bisa ditolong lagi.
Tangisku pecah seketika. Aku gendong adikku yang paling kecil yang baru genap berumur 6 bulan. Si kecilpun ikut menangis.

#BAyarutang
#ODOPbatch6

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 11

Mengapa Saya Harus Menulis?

Gantungan Cinta