Toto Saryoto, Sang Kakak Yang Bisa Diteladani


Seorang lelaki keturunan Sunda bernama Toto Saryoto sudah sekitar 8 tahun tinggal di Slawi. Lelaki kelahiran 12 Juli 1980 ini merantau di Slawi, Tegal karena dikasih rezeki dari Allah berupa pekerjaan tetap sebagai guru PNS di SMK N 1 Slawi.
Lelaki yang berasal dari sebuah desa bernama Surusunda di bagian barat kabupaten Cilacap ini merupakan lulusan sarjana Fisika Universitas Negeri Yogyakarta. Lahir sebagai anak pertama dari pasangan bapak Ahmad Purwanto alias Narwan dan ibu Artiti. Sedangkan kakeknya bernama Samiharja. Kakeknya terkenal sebagai seorang pedagang sapi dan bisa mengobati penyakit dengan metode alternatif.
Lahir dari kalangan berada tidak membuat kedua orang tuanya bermewah-mewahan. Ayah dari Toto Saryoto lebih suka mandiri dan tidak bergantung kepada kekayaan dan kehormatan mertuanya. Dia adalah seorang pedagang sekaligus petani.
Saat masih sekolah di SMP dan SMA di Majenang lelaki yang akrab dipanggil Toto ini suka membantu ayahnya berdagang. Kemudian setelah lulus ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri. Tapi nasib belum berpihak padanya dan mengulang kembali tes masuk perguruan tinggi lewat jalur SBMPTN dan diterima di jurusan Fisika UNY pada tahun 1999.
Berbekal niat dan tekad Totopun kuliah di Jogja. Dia memilih hidup sederhana karena kasihan jika harus merepotkan orang tua. Lalu memutuskan bergabung dengan sebuah porganisasi ekstra kamous Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sampai mencapai posisi Ketua HMI Universitas Negeri Yogyakarta dan bergabung dengan HMI Karangkajen.
Setelah lulus Toto mencari kerja karena sangat ingin membantu meringankan beban orang tuanya untuk menguliahkan adiknya. Kemudian diterimalah dia menjadi seorang tentor atau tenagan pengajar Fisika di bimbingan belajar Neuton Yogyakarta. Selama 4 tahun berkerja di Neutron dia selalu menyisihkan penghasilannya untuk membantu membiayai biaya sehari-hari adiknya yang sedang kuliah.
Pada tahun ke 4 bekerja, tepatnya tahun 2010 dia diterima sebagai PNS guru Fisika diSMK N 1 Slawi. Di Slawi Toto diperbantukan mengajar di Neutron cabang Slawi yang kebetulan baru buka pada tahun 2010. Selama menjadi guru muda dia aktif dalam membina kegiatan siswa.
Lelaki yang terkenal disiplin dan dekat dengan siswa ini kemudian menikah dengan seorang gadis asal Jogjakarta. Gadis ini sebenarnya ia kenal sejak tahun 2003 yaitu semasa mereka bersama dalam kegiatan kampus yaitu Kuliah Kerja Nyata (KKN). Toto kebetulan ikut KKN bersama adik tingkatnya. Namun saat itu Toto belum memikirka menikah karena masih ingin membantu orang tua menguliahkan adiknya.
Suatu hari ada teman KKN juga yang kasih tahu kalau salah seorang teman KKN bernama Wuri Setiasih belum menikah juga lewat facebook. Karena saat itu belum marak HP maka sesama teman KKN lost kontak. Hingga tahun 2009 facebook mulai menyambungkan tali silaturahmi yang terputus.
Lalu dengan tekad bulat dia melamar teman KKNnya itu. Karena calon isterinya itu juga merasa sudah mengenalnya tinggal menguatkan tekad saja. Sekitar 3 bulan pasca lamaran merekapun menikah dan tinggal di Slawi, tinggal di rumah kontrakan bersama kedua adik Toto yang kebetulan ikut bersama-sama.
Setelah menikah tidak lama dikaruniai dua orang putra dan putri yaitu Alidzar Luthfi Iskandar dan Alizzah Husna Ma’rifah. Sedangkan isterinya memilih berwirausaha, membuka bimbingan belajar di rumah. Sedangkan Toto sakit usus buntu dan memilih resign dari bimbingan belajar tempat dia mengajar sore hari. Kebetulan juga siswa isterinya semakin banyak dan memutuskan untuk membantu sang isteri membesarkan bimbel rintisan isterinya.

Saat ini Toto Saryoto sedang berusaha menjadi suami yang baik dan imam bagi keluarganya. Dia juga bercita-cita ingin mendaftar haji sebelum usia 40 tahun. Selain itu berharap bisa menghajikan orang tuanya. Dukungan isterinya sangat luar biasa sehingga dia semakin kuat untuk belajar agama dan mencari rezeki dengan cara yang halal.

#Tantangan ke-5 ODOP
#Nonfiksi
#Biografi
#OneDayOnePostBatch6

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 11

Mengapa Saya Harus Menulis?

Bermimpi Mempunyai Perpustakaan Pribadi?