TAKDIRKU, ISTRI SIRI - Part 5
MANISNYA MASA REMAJA
Sepeninggal
ibuku aku mulai beranjak dewasa. Aku mulai bergabung dengan teman-teman sebaya.
Suatu
hari tetanggaku, mas Karsi bilang, “ Gik kamu sudah besar bisa ikut kumpulan
sinoman”.
“Apa itu
kang?” kataku.
“Kumpulan
pemuda dan pemudi desa kita yang membantu kegiatan desa, salah satunya hajatan
warga”.
“Oh,
boleh kang saya bisa ikut kang”, jawabku dengan senang.
Sejak
itu aku ikut kumpulan pemuda dan pemudi desa. Salah satu kegiatannya adalah
sebagai penyaji jamuan makan pada saat hajatan warga.
Bagi yang perempuan menggunakan
kebaya dan disanggul. Sedangkan laki-laki memakai seragam bawah hitam, atas
polosan. Kami, yang perempuan harus di make up. Ada ibu-ibu tetangga yang
merias kami, namanya bu Warni.
Sejak
mengikuti kegiatan ini aku semakin ceria. Aku mulai belajar menyasak dan
menyanggul kepada ibu Warni.
Suatu
hari bu Warni bilang,” Mbak Ugik kamu berbakat lho merias, boleh bantu-bantu
ibu merias temanmu. Sejak itu setiap ada kegiatan sinoman yang melibatkan bu
Warni aku diminta membantunya.
Aku senang sekali. Sedikit demi
sedikit aku mengkoleksi sanggul, konde dan kebaya adat Jogja. Ada baju kebaya
kartini dan kupu-kupu. Selain itu aku punya dua jarik untuk baju bawahan dan
satu buah kendit. Yah, aku hanya
punya koleksi itu.
Pada
masa ini juga mulai ada ketertarikan antar lawan jenis.
“Ugik,
dapat salam dari Darto,” kata mas Karsi. Aku hanya tersenyum malu.
Banyak sekali manfaat yang kuperoleh
dengan ikut kegiatan sinoman. Aku juga mengikuti kegiatan berupa belajar seni
karawitan. Memang seni di desaku sangat maju. Selain kerawitan ada seni
ketoprak dan jathilan.
Aku
tidak bisa akting dalam ketoprak, jadi tidak ikut. Seni ketoprak adalah seni
drama dalam bahasa Jawa yang biasanya mengangkat kisah di sebuah kerajaan atau
keraton. Sedangkan seni Jathilan adalah tarian jaran kepang atau
perang-perangan. Kakakku, seorang laki-laki dia sangat gemar bermain Jathilan
sebagai pemegang Barong.
Lanjut
ceritaku tentang seni karawiitan. Dalam seni karawitan ini, kami diajari gamelan
Jawa, tembang dolanan dan tembang Macapat. Sedangkan di gamelan Jawa kita tidak
mengenal do re mi tapi ji ro lu dan seterusnya. Gamelan Jawa sendiri ada 2
macam Slendro dan Pelog. Menurut mitologi Jawa, Gamelan Slendro lebih tua
usianya daripada Gamelan Pelog. Slendro memiliki 5 (lima) nada per oktaf, yaitu
1 2 3 4 5 (C- D E+ G A) dengan interval yang sama atau berbeda tapi perbedaan intervalnya
sangat kecil. Pelog memiliki 7 (tujuh) nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 (C+
D E- F# G# A B) dengan perbedaan interval yang besar.
#bayarutang#ODOPbatch6
Komentar
Posting Komentar