BEBERAPA METODE PEMBELAJARAN DAN APLIKASINYA DALAM STRATEGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dunia pendidikan merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan demi kemajuan suatu bangsa. Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas dari sumber daya manusianya. Peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dapat dilakukan dengan pembenahan di dalam sistem pendidikan di Indonesia. Saat ini pemerintah telah menganggarkan sekitar 20 persen dari APBN untuk alokasi dunia pendidikan. Salah satu anggaran ini diperuntukkan bagi peningkatan kualitas pendidik melalui program sertifikasi.
Program sertifikasi dari pemerintah disambut baik oleh kalangan pendidik/guru, karena mampu meningkatkan kesejahteraan guru. Oleh karena itu diharapkan mampu meningkatkan kinerja pendidik. Hal ini menuntut tanggung jawab yang lebih banyak kepada guru untuk meningkatkan kualitas dirinya. Salah satunya yaitu dengan memperkaya diri akan ilmu-ilmu pendidikan yang menunjang proses pembelajaran yang efektif.
Proses pembelajaran yang efektif ditentukan oleh berbagai faktor, diantaranya karakteristik siswa, lingkungan, materi, dan ketepatan strategi/metode pembelajaran yang digunakan. Seorang pendidik harus mampu mengorganisasikan berbagai faktor tersebut dengan baik sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran yang merujuk pada empat pilar pendidikan yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together (Budi Manfaat, 2010:19). Pemilihan strategi/ metode pembelajaran yang tepat tentunya sangat berpengaruh sekali terhadap suksesnya keberhasilan pembelajaran. Hali ini senada dengan pendapat Tung Desem Waringin bahwa orang tidak sukses dikarenakan tiga hal yaitu, tidak mempunyai tujuan yang jelas, merasa bahwa keinginannya adalah sesuatu yang tak mungkin, dan tidak mempunyai strategi yang tepat untuk meraih mimpinya (Budi Manfaat, 2010:18)
Strategi pembelajaran yang tepat akan berpengaruh pada suksesnya peningkatan daya serap siswa sehingga diharapkan ketuntasan belajar (mastery learning) dapat tecapai. Strategi pembelajaran yang dipilih hendaknya tidak membuat siswa menjadi bosan, sehingga harus dikemas dalam bentuk yang menarik. Proses pembelajaran harus berorientasi pada siswa (student oriented), sehingga perlu memperhatikan karakteristik siswa didik.
Karakteristik anak usia TK, SD, SMP, SMA maupun anak-anak berkebutuhan khusus sangat menentukan strategi pembelajaran yang harus dipilih oleh seorang pendidik. Oleh karena itu pemahaman pendidik terhadap karakteristik siswa sangat penting (Djam’an Satori, 2008:3.1) Selain karakteristik anak, materi pembelajaran juga berpengaruh terhadap pemilihan strategi pembelajaran. Pembelajaran mata pelajaran bahasa tentunya akan berbeda dengan mata pelajaran matematika. Aspek kemampuan yang akan dicapai dalam kedua mata pelajaran ini juga berbeda, namun sebaiknya tetap mencakup tiga aspek kemampuan yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap momok. Paradigma ini telah berkembang di kalangan anak didik sejak dulu, sehingga cukup menjadikan tantangan bagi para pendidik agar mampu menghilangkan paradigma ini. Namun demikian anggapan tersebut tidaklah salah, terutama bagi anak didik yang memiliki kemampuan matematika yang tidak memadai. Setiap manusia dilahirkan dengan dibekali kemampuan yang berbeda-beda, namun tidak boleh menyerah sebelum mencoba. Pada dasarnya matematika merupakan studi objek abstrak, aksiomatik, simbolik dan deduktif. Hal inilah yang menyebabkan matematika tidak mudah untuk diajarkan dan dipelajari terutama untuk anak-anak berkemampuan matematika yang tidak memadai tersebut. Boleh dikatakan bahwa matematika harus membumi supaya lebih mudah dipahami, artinya peserta didik dikenalkan dengan aspek-aspek pentingnya dan bergunanya belajar matematika.
Seorang pendidik terutama pendidik dalam mata pelajaran matematika harus mampu memilih strategi yang tepat dalam melaksanakan pembelajaran di kelas yang diampunya. Oleh karena itu pemahaman akan karakteristik siswa didik, penguasaan materi matematika yang memadai dan berbagai strategi pembelajaran yang bisa dipilih harus diperhatikan. Pemilihan strategi harus memperhatikan karakteristik usia anak karena cara berpikir tentang matematika dan kemampuan matematika pada jenjang sekolah yang berbeda juga akan berbeda (Santrock, J.W, 2007 : 439).
Terdapat berbagai macam metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam strategi pembelajaran. Diantaranya metode ceramah, metode drill, metode eksperimen, metode pemecahan masalah, metode sosiodrama, metode penugasan, metode karya wisata, metode permainan dan sebagainya. Penggunaan metode tersebut belum tentu cocok untuk mata pelajaran yang tertentu maupun materi yang tertentu.
Pada makalah ini akan dibahas beberapa metode pembelajaran, bagaimana memilih metode yang tepat dan aplikasinya dalam strategi pembelajaran matematika di sekolah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana memilih metode pembelajaran yang tepat sebagai salah satu strategi pembelajaran?
2. Bagaimana metode pembelajaran diaplikasikan dalam strategi pembelajaran matematika ?
C. Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk mendiskripsikan :
1. Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam memilih metode pembelajaran yang tepat sebagai salah satu strategi pembelajaran.
2. Metode pembelajaran dan aplikasinya dalam strategi pembelajaran matematika .
D. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu memperkaya pengetahuan penulis dan pembaca akan strategi pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran matematika.
BAB II TELAAH PUSTAKA
A. Hakikat Strategi Pembelajaran
Salah satu cara untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran di sekolah adalah memilih atau menetapkan strategi pembelajaran yang resmi dengan kondisi yang diprediksi dapat mempengaruhi hasil belajaran yang akan dicapai oleh siswa. Agar hal ini tercapai guru harus memiliki kemauan dan kemampuan yang memadai untuk mengembangkan atau menetapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kondisi pengajaran, seperti karakteristik siswa yang diajar.
Pada awalnya istilah strategi biasa digunakan dalam dunia militer. Kata strategi berasal dari kata Strategos (Yunani) atau Strategus. Strategos berarti jenderal atau berarti pula perwira Negara (state officer). Jenderal inilah yang bertanggungjawab merencanakan suatu strategi dan mengarahkan pasukannya untuk mencapai kemenangan (Depdikbud; 1999: 40). Namun kata strategi berkembang luas penggunaannya, misalnya strategi pemasaran, strategi permainan dan sebagainya.
Pengertian strategi pembelajaran cukup beragam walaupun pada dasarnya sama. Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Wina Sanjaya, 2008:126)
Dari pengertian diatas, ada dua hal yang perlu dicermati. Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu, artinya arah tujuan dari penyusunan langkah-langkah strategi adalah pencapaian tujuan. Oleh sebab itu sebelum menentukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan adalah roh dari implementasi strategi (Wina Sanjaya, 2008:126)
Titik tolak untuk penentuan strategi belajar-mengajar tersebut adalah perumusan tujuan pengajaran secara jelas. Agar siswa dapat melaksanakan kegiatan belajar-mengajar secara optimal, selanjutnya guru harus memikirkan pertanyaan berikut: “Strategi manakah yang paling efektif dan efisien untuk membantu tiap siswa dalam pencapaian tujuan yang telah dirumuskan?” Pertanyaan ini sangat sederhana namun sukar untuk dijawab, karena tiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda. Tetapi strategi memang harus dipilih untuk membantu siswa mencapai tujuan secara efektif dan produktif.
B. Matematika
Matematika merupakan suatu alat yang dapat memperjelas dan menyederhanakan suatu keadaan atau situasi melalui abstraksi, idealisasi, atau generalisasi untuk suatu studi atau pemecahan masalah. Matematika berasal dari bahasa latin, mathematike yang berarti “relating to learning”. Kata mathematike mempunyai akar kata manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Dalam bahasa Belanda, matematika disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang semuanya berkaitan dengan penalaran (Depdiknas, 2003:1).
Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumya, sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Matematika memiliki ciri khusus atau karakteristik yang dapat mencakup pengertian secara umum (Soedjadi, 2002 : 13-19):
a. Matematika memiliki objek abstrak
Objek abstrak dasar itu meliputi : fakta, konsep, operasi ataupun relasi dan prinsip. Fakta, konsep dan prinsip tersebut saling terkait satu sama lain dalam sistem.
b. Bertumpu pada kesepakatan
Kesepakatan yang paling mendasar dalam matematika adalah aksioma dan konsep primitif. Aksioma disebut juga sebagai postulat atau pernyataan pangkal yang diperlukan untuk menghindarkan berputar-putar dalam pembuktian, sedangkan konsep primitif diperlukan untuk menghindarkan berputar-putar dalam pendefinisian.
c. Berpola pikir deduktif
Pola pikir deduktif adalah berpangkaldari hal yang umum kemudian diterapkan atau diarahkan kepada hal yang khusus.
d. Memiliki simbol yang kosong dari arti
Kosongnya arti simbol maupun tanda dalam model-model matematika justru memungkinkan”intervensi” matematika ke dalam berbagai pengetahuan.
e. Memperlihatkan semesta pembicaraan
Semesta pembicaraan bermakna dengan universal set. Semesta pembicaraan dalam sempit dapat juga luas sesuai keperluan.
f. Konsisten dalam sistemnya
Konsisten itu, baik dalam makna maupun dalam hal nilai kebenarannya.
Matematika yang dipelajari peserta didik di sekolah disebut matematika sekolah. Fungsi pelajaran matematika bagi siswa adalah sebagai alat, pola pikir, dan sebagai ilmu atau pengetahuan. Matematika sebagai alat artinya matematika dapat digunakan untuk memecahkan masalah dalam mata pelajaran yang lain, dunia kerja, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Belajar matematika bagi siswa merupakan pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun dalam penalaran suatu hubungan diantara pengertian-pengertian itu, yang pada akhirnya dapat menjadi pengetahuan bagi siswa. Kajian matematika mencakup aritmetika, geometri, analisis, statistik, aljabar dan matematika terapan.
C. Metode - Metode Pembelajaran
Belajar diartikan sebagai sebuah proses perbaikan-perbaikan pengetahuan dan ketrampilan dengan cara mengalaminya sendiri (melihat, membaca, mendengar, merasakan, melakukan). Disini ada proses transformasi. Untuk melakukan proses transformasi diperlukan metode yang tepat. Metode adalah cara/teknik yang tersusun secara teratur untuk mencapai tujuan tertentu (Sugiyanto, 2011).
Metode pembelajaran adalah cara/teknik yang dipergunakan widyaiswara/guru /fasilitator dalam proses pembelajran agar tercapai tujuan instruktional yang diharapkan. Adapun tujuan tersebut meliputi aspek kognitif, pemahaman transfer of knowledge (dari pengetahuan hingga sintesis dan evaluasi), afektif , sikap dan perilaku, perasaan, emosi, sistem nilai, sikap hati dan psikomotorik, ketrampilan motorik yang berhubungan dengan anggota tubuh, tindakan, koordinasi antara syaraf dan otot. (Sugiyanto, 2011).
Salah satu fungsi dari metode pembelajaran adalah sebagai strategi pengajaran dalam pembelajaran (Mujidin, 2011). Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi dengan waktu yang relatif lama. Terhadap perbedaan daya serap anak didik sebagaimana tersebut di atas, memerlukan strategi pengajaran yang tepat. Metode adalah salah satu jawabannya. Untuk sekelompok anak didik boleh jadi mereka mudah menyerap bahan pelajaran bila guru menggunakan metode tanya jawab, tetapi untuk sekelompok anak didik yang lain mereka lebih mudah menyerap bahan pelajaran bila guru menggunakan metode demonstrasi atau metode eksperimen.
Karena itu, dalam kegiatan belajar mengajar menurut Dra. Roestiyuh. NX (1989, 1), guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu adalah harus menguasai teknik-teknik penyajian atau biasanya disebut inefode, mengajar. Dengan demikian, metode mengajar adalah strategi pengajaran Sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Adapun manfaat dari metode pembelajaran antara lain (Sugiyanto,2011):
1. Membantu dosen/guru/WI dalam proses belajar mengajar agar tercapai tujuan pembelajaran.
2. Mempermudah peserta dalam menyerap materi diklat .
3. Menghilangkan dinding pemisah antara dosen/guru/WI dan peserta diklat
4. Mengali dan memanfaatkan potensi peserta .
5. Terjadi kemitraan antara dosen/guru/WI dan peserta .
6. Menimbulkan perasaan ‘fun’ bagi peserta diklat sehingga motivasi peserta diklat meningkat .
Matematika masih dianggap sulit oleh sebagian besar siswa. Maka tidak jarang murid yang awalnya menyenangi pelajaran matematika, beberapa bulan kemudian menjadi tidak acuh sikapnya. Salah satu sebabnya bisa dimungkinkan adalah cara mengajar guru tidak sesuai dan tidak menarik. Untuk mengatasi hal tersebut pendidik harus mengemas pemebelajaran dengan berbagai metode yang tepat dan berorientasi pada siswa dan dapat berguna untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Terdapat berbagai macam metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh pendidik demi tercapainya keefektifan pembelajaran. Pemilihan kombinasi metode pembelajaran yang tepat dapat lebih meningkatkan proses belajar mengajar. Di bawah ini disajikan berbagai macam metode pembelajaran dimana memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. (Erman Suherman&Udin S.W, 1993 :241-263 dan Mujidin, 2011):
1. Metode Ceramah
Metode ceramah adalah metode yang boleh dikatakan metode tradisional, yang lebih banyak menuntut keaktifan guru dari pada anak didik. Cara mengajar dengan ceramah dapat dikatakan juga sebagai teknik kuliah, merupakan suatu cara mengajar yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi informasi atau uraian tentang suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan.
2. Metode Ekspositori
Metode ekspositori sama seperti metode ceramah dalam hal terpusatnya kegiatan pada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). Tetapi metode ini dominasi guru banyak berkurang, karena tidak terus-menerus bicara. Guru berbicara pada awal pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal, dan pada waktu-waktu yang diperlukan saja. Siswa tidak hanya mendengar dan membuat catatan. Tetapi juga membuat soal latihan dan bertanya kalau tidak mengerti. Guru dapat memeriksa pekerjaan siswa secara individual, menjelaskan lagi kepada murid secara individual atau klasikal.
3. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan-tiruan, yang sering sertai dengan penjelasan lisan. Dengan metode demonstrasi, proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam, sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna. Juga siswa dapat mengamati dan memperhatikan apa yang diperlihatkan selesainya pelajaran berlangsung.
Metode demonstrasi baik digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu, proses membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, proses mengerjakan atau menggunakannya, komponen-komponen yang membentuk sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain, dan untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.
4. Metode Drill dan Latihan
Metode latihan yang disebut juga metode training, merupakan suatcara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini ni dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan keterampilan.
5. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru. Metode tanya Jawab adalah yang tertua clan banyak digunakan dalam proses pendidikan, balk di lingkungan keluarga, masyarakat maupun di sekolah.
6. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematik untuk dibahas dan dipecahkan bersama.
Teknik diskusi adalah salah satu teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru di sekolah. Di dalam diskusi ini proses belajar mengajar terjadi, di mana interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat terjadi juga semuanya aktif, tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja.
7. Metode Penemuan
Metode penemuan adalah metode dimana siswa menemukan sendiri suatu informasi. Pengajaran dengan metode penemuan berharap agar siwa benar-benar aktif menemukan sendiri bahan yang dipelajari (discovery learning). Melaksanakan pengajaran dengan metode penemuan harus memperhatikan siswa yang cerdas dan yang kurang kecerdasannya. Bagi yang cerdas hendaknya diberi tugas yang lain agar mereka tidak bosan menunggu teman-temannya yang belum berhasil menemukan jawabannya. Tetapi diusahakan agar jawaban atau hasil akhir itu tetap ditemukan sendiri olehnya. Proses penemuan ini bisa dilakukan dengan terbimbing maupun tidak.
Untuk merencanakan pembelajaran dengan metode penemuan hendaknya diperhatikan hal-hal berikut :
a) Aktivitas siswa untuk belajar sendiri sangat dipengaruhi,
b) Hasil(bentuk) akhir harus ditemukan sendiri oleh siswa,
c) Prasyarat-prasyarat yang diperlukan sudah dimiliki siswa,
d) Guru hanya bertindak sebagai pengarah dan pembimbing saja, bukan pemberitahu.
8. Pemecahan Masalah
Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekadar metode mengajar, tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai mulal dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan. Penggunaan metode ini dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a. Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemampuannya.
b. Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Misalnya, dengan jalan membaca buku-buku, meneliti, bertanya, berdiskusi clan lain-lain.
c. Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan jawaban ini tentu saja didasarkan kepada data yang telah diperoleh, pada, langkdh kedua di alas.
d. Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam langkah ini siswa harus berusaha ffiemecahkan masalah sehingga betul-betul yakin bahwa jawaban tersebut betul-betul cocok. Apakah sesuai dengan jawaban sementara, atau sama sekali tidak sesuai. Untuk menguji kebenaran jawaban ini tentu saja diperlukan metode-metode lainnya seperti demonstrasi, tugas diskusi, dan lain-lain.
e. Menarik kesimpulan. Artinya siswa harus sampai kepada kesimpulan terakhir tentang jawaban dari masalah tadi.
9. Metode Permainan
Metode permainan adalah metode yang berupa kegiatan yang menyenangkan dan menggembirakan sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Tujuan ini meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Walaupun permainan matematika menyenangkan penggunaannya harus dibatasi, tidak dilaksanakan seingatnya saja. Barangkali sekali-kali dapat juga diberikan untuk mengisi waktu, mengubah suasana “tekanan tinggi” atau “ice breaker”, menimbulkan minat dan sejenisnya. Seharusnya direncanakan dengan tujuan instruksional yang jelas, tepat penggunaannya dan tepat pula waktunya. Ada berbagai permainan yang bisa digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran.
10. Metode Eksperimen
Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami clan membuktikan sendiri: sesuatu yang dipelajari. Dalam proses belajar mengajar dengan metode percobaan mi. siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu objek, keadaan, atau proses sesuatu. Dengan demikian, siswa dituntut untuk mengalami sendiri, mencari kebenaran, atau mencoba mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik kesimpulan atau proses yang dialaminya itu.
D. Karakteristik Peserta Didik
a) Karakteristik Anak Usia SD
Pada anak usia SD yang berkisar antara 6-13 tahun, masih berada dalam tahapan operasional konkret. Mereka cenderung sering bertengkar dan bermain. Selain itu akan mencapai tahap penyesuaian diri dari anak pra sekolah ke sekolah.
b) Karakteristik Anak Usia SMP
Pada anak usia SMP yang berkisar antara 13-16 tahun, sudah berada dalam tahapan operasional abstrak. Mereka mulai ada ketertarikan terhadap lawan jenis, emosi meledak-ledak, berpikir kausalitas dan mulai memberontak.
c) Karakteristik Anak Usia SMA
Pada anak usia SMA yang berkisar antara 15-19 tahun, sudah berada dalam tahapan operasional abstrak. Mereka biasanya mencari identitas diri, membentuk komunitas dan mulai bisa diajak berdiskusi.
d) Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus
Banyak peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, misalnya kesulitan dalam bahasa atau berpikir matematika. Selanjutnya penulis membatasi pada anak yang berkesulitan belajar matematika atau sering disebut diskalkulia. Istilah diskalkulia erat kaitannya dengan konotasi medis yang melihat adanya keterkaitan dengan gangguan pada system saraf pusat.
Ada beberapa karakteristik peserta didik berkesulitan belajar matematika yaitu ( Bandi Delphi, 2009:11-12) :
1. Adanya gangguan dalam hubungan ruang atau tempat (disturbances of spatial relationships)
2. Abnormalitas persepsi visual (disturbances of motor and visual perception abilities)
3. Asosiasi visual motor
4. Perseverasi
5. Kesulitan mengenal dan memahami symbol
6. Gangguan penghayatan tubuh (body image)
7. Kesulitan dalam bahasa dan membaca (language and reading problem)
8. Skor performance IQ jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan skor verbal IQ.
BAB III PEMBAHASAN
A. Hal – Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam memilih Metode Pembelajaran
Pada bab II disebutkan bahwa metode pembelajaran berfungsi sebagai salah satu strategi pembelajaran (Mujidin, 2011). Setiap pemilihan strategi pemebelajaran, dalam hal ini metode pembelajaran tidaklah sembarangan. Menurut Sugiyanto (2011) ada syarat-syarat yang harus diperhatikan dalam memilih metode pembelajaran antara lain :
1. Dapat membangkitkan motif, minat, atau gairah belajar peserta,
2. Dapat menjamin perkembangan kegiatan kepribadian peserta,
3. Dapat memberikan kesempatan bagi peserta untuk mewujudkan hasil karya,
4. Dapat merangsang keinginan peserta untuk belajar lebih lanjut, melakukan eksplorasi dan inovasi (pembaharuan),
5. Dapat mendidik peserta dalam tehnik belajar sendiri dan cara memperoleh pengetahuan melalui usaha pribadi,
6. Dapat meniadakan penyajian yang bersifat verbalitas dan menggantinya dengan pengalaman atau situasi yang nyata,
7. Dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikap utama yang diharapkan dalam kebiasaan cara bekerja yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
B. Beberapa Metode Pembelajaran dan Aplikasinya Dalam Strategi Pembelajaran Matematika
Seperti dijelaskan dalam bab II matematika memiliki karakteristik keilmuan dan cakupan materi beraneka ragam mulai dari aritmetika, geometri, analisis, statistik, aljabar dan matematika terapan. Materi – materi tersebut disampaikan dalam bentuk materi – materi berupa kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa dalam jenjang pendidikan dari SD sampai SMA. Untuk anak-anak berkebutuhan khusus biasanya hanya sampai tahapan pengetahuan dasar terutama hitung aritmetika.
Dalam pembahasan ini akan dijelaskan beberapa metode pembelajaran dan aplikasinya dalam pembelajaran matematika.
1. Metode Ceramah
Seperti dikatakan sebelumnya metode ceramah didominasi oleh peran guru. Seperti diketahui bahwa matematika merupakan ilmu yang memerlukan prasyarat untuk dapat dimengerti. Metode ini dapat dipakai dalam pembelajaran matematika jika bertujuan memberikan informasi, materi yang disajikan belum ada dalam sumber – sumber lain, materi sajian telah disesuaikan dengan kemampuan kelompok yang akan menerimanya, materinya menarik atau dibuat menarik dan setelah ceramah selesai diadakan cara lain untuk pengendapan agar lebih lama dapat diingat. Metode ini sebaiknya tidak dipakai apabila tujuan instruksionalnya bukan hanya memberikan informasi, tetapi misalnya agar siswa kreatif, terampil, atau menyangkut aspek kognitif yang lebih tinggi, diperlukan ingatan yang lama, diperlukan partisipasi aktif dari siswa untuk mencapai tujuan instruksional, dan kemampuan kelas rendah (Erman Suherman & udin S.W, 1993 : 242-243)
2. Metode Ekspositori
Metode ekspositori sama seperti metode ceramah dalam hal terpusatnya kegiatan pada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). Metode ekspositori merupakan cara mengajar yang efektif dan efisien dan sering digunakan dalam pembelajaran matematika. Guru selain menyampaikan materi dengan ceramah juga memberikan latihan-latihan, terkadang siswa juga dituntut untuk membuat soal latihan dan guru memeriksa pekerjaan siswa. Siswa yang tidak mengerti bisa meminta penjelasan secara individual kepada guru.
3. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi sejenis dengan metode sebelumnya, yaitu didominasi guru. Akan tetapi dalam perkembangannya demonstrasi bisa dilakukan oleh siswa yang sudah paham akan materi. Ciri khas metode demonstrasi tampak dari adanya penonjolan mengenai suatu kemampuan, misalnya kemampuan guru membuktikan teorema, menurunkan rumus, atau memecahkan soal cerita. Sedangkan yang berhubungan dengan alat, misalnya pemakaian sepasang segitiga untuk menggambarkan dua garis sejajar atau tegak lurus, jangka, dan segitiga untuk membuat lukisan – lukisan geometri, penggunaan daftar, mistar hitung, atau kalkulatoruntuk melakukan perhitungan-perhitungan.
Setelah demonstrasi selesai, apakah itu dilakukan oleh guru atau siswa, hendaknya disusul dengan kegiatan diskusi. Dalam diskusi ini dapat diberikan atau diminta komentar, kritik dan saran, atau penjelasan yang berhubungan dengan demonstrasi yang dilakukan. Diskusi ini penting, terutama jika demonstrasi dilakukan oleh siswa (Erman Suherman & udin S.W, 1993 : 244).
4. Metode Drill dan Latihan
Banyak alat yang dapat membantu orang untuk berhitung cepat dan cermat, misalnya : daftar kuadrat, daftar akar, dekak-dekak dan kalkulator. Tetapi berhitung cepat dan cermat tanpa alat di sekolah tetap diperlukan. Tujuan dari metode drill misalnya siswa mampu menghafal fakta-fakta perkalian dalam ingatan. Sedangkan kemampuan menyelesaikan soal dengan cepat dan cermat dapat dilakukan dengan metode latihan. Dalam hal ini biasanya siswa dituntut berlatih mengingat suatu algoritma/prosedur mengerjakan soal.Misalnya mengerjakan soal operasi hitung aritmetika, bagaimana melukis garis-garis istimewa dalam segitiga, mengerjakan soal menarik , pemecahan sistem persamaan dan pertidaksamaan linear dua atau lebih variabel dan sebagainya. (Erman Suherman & udin S.W, 1993 : 246).
5. Metode Tanya Jawab
Agar siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan metode tanya jawab sebaiknya guru bertindak sebagai berikut :
a) Menghargai jawaban, pertanyaan atau tindakan siswa bagaimana pun jelek mutunya. Misalnya ketika kelas sedang membuat soal latihan pemfaktoran bentuk x2+2x-21, ada siswa yang mengganggu teman-temannya dengan pertanyaan bagaimana caranya untuk mengubah suku tiga menjadi suku empat yang diperlukan. Manakah dari pertanyaan dan pernyataan berikut sebaiknya diajukan. ” Kamu masih juga belum dapat mengerjakan soal sesederhana itu?”atau ”Bagus, kamu bertanya sekarang. Kalau tidak, kamu akan mendapat kesukaran dalam pemfaktoran bentuk ax2+bx+c, penyelesaian persamaan dan pertidaksamaan kuadrat.
b) Menerima jawaban siswa lalu memeriksanya dengan mengajukan pertanyaan
c) Merangsang siswa aktif berpartisipasi dengan menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat, atau mendemonstrasika hasil berpikirnya di depan kelas.
d) Bertindak seolah-olah belum tahu atau membuat kekeliruan disengaja. Cara ini dapat meningkatkan aktivitas siswa dan mereka menjadi lebih kritis.
Mengajukan pertanyaan yang tinggi. Dalam metode tanya jawab sebaiknya menggunakan kata tanya seperti mengapa, bagaimana, dari mana, bilaman yang dimana akan menghasilkan jawaban yang bermutu tinggi. (Erman Suherman & udin S.W, 1993 : 248-249).
6. Metode Diskusi
Metode diskusi sekarang banyak dipakai karena menuntuk keaktifan siswa dan berorientasi pada siswa. Metode diskusi misalnya dapat dipakai dalam mempelajari suatu konsep matematika. Sebagai contoh siswa mendiskusikan benda-benda berada di lingkungan sekitar dan memilahnya menjadi bangun datar dan bangun ruang. Siswa harus memberikan alas an dalam mengelompokkan benda-benda tersebut ke dalam bangun datar dan bangun ruang.
7. Metode Penemuan
Kata penemuan sebagai metode pembelajaran merupakan penemuan yang dilakukan oleh siswa sehingga siswa lebih aktif. Penemuan disini sebenarnya bukan menemukan sesuatu yang baru. Akan tetapi siswa dibimbing untuk menemukan suatu konsep. Sebagai contoh :mUntuk mengajarkan sifat komutatif dengan metode penemuan, siswa diberi sejumlah soal perkalian sebagai berikut:
Kerjakan soal-soal berikut :
2 x 6 = …. 5 x 3 = ….
7 x 4 = …. 6 x 2 = ….
3 x 5 = …. 4 x 7 = ….
9 x 1 = …. 1 x 9 = ….
Perhatikan hasil – hasil yang kalian peroleh.
Adakah hasilnya yang sama?
Kesimpulan apa yang dapat kalian tarik dari soal – soal itu?
Metode penemuan di atas memerlukan bimbingan dengan pertanyaan, sehingga disebut penemuan terbimbing. (Erman Suherman & udin S.W, 1993 : 250-251).
8. Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah sangat penting untuk dipakai, karena sebagai bekal bagi siswa untuk menghadapi masa depannya yang tentu saja tidak pernah lepas dari permasalahan hidup yang butuh penyelesaian. Masalah banyak ragamnya, misalnya masalah keluarga, tetangga, pekerjaan, kemasyarakatan, keuangan, pendidikan dan sebagainya. Masalah matematika dagi siswa akan menjadi masalah seorang anak, jika ia :
(a) Mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan, ditinjau dari segi kematangan mentalnya dan ilmunya,
(b) Belum mempunyai algoritma atau prosedur untuk menyelesaikannya, dan berlainan yang sebarang letaknya, dan
(c) Berkeinginan untuk menyelesaikannya.
Di bawah ini akan diberikan gambaran mengenai metode ini.
Diberikan lima buah soal matematika:
a) 48 +16 = …
b) 37, 48 + 85, 3 = ….
c) Tentukan koordinat titik puncak parábola y= -2x2 + 4x + 6
d) Berapa banyak ruas garis paling banyak yang menghubungkan 15 titk berlainan yang sebarang letaknya.
e) Selesaikan seperti soal – soal di atasnya.
3*2 = 3
1*4=13
4*2=10
5*6= …
1*5=…
Materi di atas termasuk materi matematika SMP. Soal a bukan masalah, sebab dengan memandang saja siswa dapat menentukan jumlahnya. Soal b juga bukan masalah, karena meskipun tidak langsung menyebutkan hasilnya dengan menggunakan kertas dan pensil siswa pasti dapat menemukannya. Tampaknya soal c merupakan soal yang sukar bagi siswa SMP. Jika diberikan mungkin banyak salah cara menyelesaikannya atau sama sekali tidak dapat membuat. Soal d bagi siswa SMP merupakan masalah karena perlu memakai berbagai cara berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya. Sedangkan soal e merupakan masalah, karena algoritmanya belum jelas.
Untuk menentukan suatu soal merupakan masalah atau tidak harus dilihat ketiga syarat di atas. Jadi, soal akan menjadi masalh bagi seorang siwa, tetapi belum tentu menjadi masalah bagi siswa lain.
Berikut ini diberikan contoh pemecahan masalah. Tentu saja ini berlaku sesuai keterangan di atas yaitu, bagi yang belum tahu sebelumnya, belum pernah berhasil menyelesaikannya, dan belum tahu rumusnya,
Soal
Hitung banyak sudut lancip yang terjadi jika dalam sudut lancip dibuat 14 sinar garis yang berlainan dari titik sudutnya!
Untuk memecahkan masalah ini diperlukan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Merumuskan permasalahan dengan jelas.
b. Menyatakan lagi masalahnya dalam bentuk yang operasional (dapat dilaksanakan).
c. Menduga sementara (hipótesis)
d. Menentukan strategi pemecahan.
e. Melaksanakan prosedur pemecahan.
f. Memeriksa hasil pemecahan.
Langkah-langkah diatas dapat dilakukan sebagai berikut:
|
|
![]() |
Gambar 1
(2)
Banyak garis OCn (n)
|
Banyak sudut yang terjadi (d)
|
1
2
3
14
.
.
.
10
.
.
.
14
.
.
.
n
|
2
5
9
14
.
.
.
….
.
.
.
….
.
.
.
….
|
(3) Banyak sudut yang terjadi ditentukan oleh suku-suku barisan yang tergantung dari banyak garis yang dibuat.
(4) Membuat 1, 2, 3 dan 4 garis OC masing-masing dalam sebuah sudut lancip. Lalu membilang banyak sudut lancip yang terjadi dalam tiap sudut itu. Kemudian dicari aturan barisan bilangannya.
![]() | |||||
![]() | ![]() |
1 garis 2 sudut 2 garis 5 sudut 3 garis 9 sudut
Gambar 2
(5) Hasil yang diperoleh diisikan dalam daftar (2). Dicari hubungan keterangan antara banyak sudut yang terjadi.
n=1 d1 = 2 = 2
n=2 d2= 5 = 2+3
n=3 d3=9 = 2+3+4
… …
n=n dn=
(6) Pemeriksaan kebenaran dn
n=1 maka d1 = 2 = 2
n=2 maka d2= 5 = 2+3
n=3 maka d3=9 = 2+3+4.
Hasil perhitungan dengan menggunakan dn ternyata sama dengan yang diperoleh pada langkah (5). Jadi hipotesis pada (3) benar dan banyak sudut yang terjadi adalah :
d14= 2+3+4+5+…+14+15= 119.
Jika rumus jumlah deret aritmetika sudah diperoleh siswa, bentuk dn dapat dijadikan rumus 
Pendekatan yang digunakan untuk pemecahan masalah dalam contoh di atas tampak menggunakan cara induktif. Pendekatan dan langkah yang diambil pada penyelesaian soal matematika dengan pemecahan masalah sejalan dengan yang biasa dilakukan dalam penelitian-penelitian ilmiah. Untuk memecahkan masalah konsep limit deret geometri juga dapat dilakukan dengan metode pemecahan masalah. (Erman Suherman & udin S.W, 1993 : 255-257).
9. Metode Permainan
Permainan matematika adalah suatu kegiatan yang menggembirakan yang dapat menunjang tercapainya tujuan instruksional pengamatan matematika. Tujuan ini dapat menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Walaupun permainan matematika menyenangkan penggunaannya harus dibatasi, tidak dilaksanakan seingatnya saja. Barangkali sekali-kali dapat juga diberikan untuk mengisi waktu, mengubah suasana tekanan tinggi, menimbulkan minat dan sejenisnya. Seharusnya direncanakan dengan tujuan instruksional yang jelas, tepat penggunaannya dan tepat pula waktunya.
Permainan yang mengandung nilai-nilai matematika dapat meningkatkan ketrampilan, penanaman konsep, pemahaman, dan pemantapannya, meningkatkan kemampuan menemukan, memecahkan masalah dan sebagainya. Oleh karena itu penerapannya sebaiknya terpadu dengan kegiatan pembelajaran. (Erman Suherman & udin S.W, 1993 : 258-259).
Berikut ini akan diberikan beberapa contoh permainan matematika.
(a) Permainan Matematika Kapal Selam
Aturan Permainan Kapal Selam
1. Permainan terdiri dari dua kelompok, penanya P (penembak, awak kapal perang) dan kelompok D yang harus menjawab (yang mengetahui letak kapal selam), serta seorang wasit.
2. Di awal permainan tiap kelompok memiliki 10 peluru, untuk itu dipergunakan 10 batu kecil.
3. Tiap kali bertanya (menembak) jika salah (dijawab ‘Tidak’ oleh kelompok D) harus menyerahkan 1 peluru kepada wasit. Tetapi, kalau tebakannya benar (dijawab ‘Ya’ oleh D) tidak perlu mengeluarkan peluru.
4. Tiap jawaban dari D yang salah (keliru, sengaja atau tidak sengaja), kelompok D harus menyerahkan 1 peluru kepada wasit.
5. Tembakkan kelompok P (tebakan menyebut titik koordinat kapal selam dari D), jika benar mendapat hadiah 5 peluru dari wasit. Tetapi kalau salah dihukum, harus menyerahkan 5 peluru kepada wasit.
6. Tidak boleh bertanya(menebak) lagi, jika pelurunya tinggal 4. Kemudian kedua kelompok bertukar peran. Kelompok D berberan sebagai penanya dan kelompok P sebagai penjawab.
7. Tiap babak permainan penanya diberi kesempatan maksimal 10 kali bertanya (menebak).
8. Bilangan-bilangan koordinat yang dipakai adalah bilangan-bilangan dari -10 sampai 10.
Tiap kelompok mempunyai sebuah bidang koordinat dan sebuah kapal. Kelompok D merahasiakan letak kapal selam terhadap kelompok P, tetapi wasit mengetahuinya. Bidang koordinat dari P bersama kapalnya digunakan sebagai alat bantu untuk mengetahui letak kapal selam dari kelompok D.
Gambaran permainan berlangsung seperti berikut :
Perhatikan gambar 3.
Kelompok D menentukan letak kapal selamnya di koordinat
. Posisi ini harus diberitahukan kepada wasit. Maka tebak-tebakan sudah dapat dimulai. (Indeks pada D menyatakan nomor pertanyaan)
P1 : ”Apakah kapal selam di atas sumbu X?”
D : “Tidak”
P2 : “Apakah kapal selam di kanan dari sumbu Y?”
D : “Ya”
P3 : “Ordinatnya kurang dari 10?”
D : “Ya”
P4 : “Ordinatnya lebih besar dari -10?”
D : “Ya”
P5 : “Ordinatnya lebih besar dari -5?”
D : “ Ya”
P6 : “Absisnya lebih besar dari 11?”
D : “Ya”
P7 : ”Ordinatnya kurang dari -8?”
D : “Tidak”
P8 : “Ordinatnya lebih besar dari -8?”
D : “Tidak”

Pada keadaan ini, kelompok P sudah berhasil dapat menyimpulkan bahwa letak kapal selam yang ditebaknya ada pada ordinat -8. Sebab ditanya kurang dari -8 dan lebih besar dari -8 memperoleh jawaban sama, yaitu “Tidak”. Kelompok P tinggal menebak absisnya. Peluru yang masih dimilikinya ada 6, sebab pernah 4 kali memperoleh jawaban tidak. Letak kapal selam sudah dilokalisir, yaitu pada ordinat -8 dengan absis dari 12 sampai 20. Kesempatan bertanya masih ada satu kali lagi dan kesempatan terakkhir untuk menebak kapal selam. Kalau tebakan kelompok P benar, kelompok ini dalam babak baru bertindak lagi sebagai penanya. Bila tebakan salah, maka peran bertukar. Kelompok P sekarang menjadi penjawab atas pertanyaan D.
(b) Permainan Sirkuit Pintar Matematika
Sirkuit Pintar ini dipopulerkan oleh Yasin Yusuf dan Umi Auliya dan berniali edukatif karena dimanfaatkan dalam pembelajaran. Bernilai produktif karena anak/siswa mendapatkan suatu hasil berupa pengetahuan atau pelajaran setelah memainkannya, dan menyenangkan karena sirkut pintar merupakan sebuah permainan. Secara umum permainan ini terdiri dari beberapa bagian
1. Papan Permainan
Papan permainan ini berbentuk persegi. Pada papan permainan terdapat 100 kotak yang sama besar. Setiap kotak terdapat bentuk gambar-gambar bangun datar yang dipelajari siswa, baik SD atau SMP. Desain gambar dapat dilihat di buku karya Yasin Yusuf dan Umi Auliya.
2. Dadu
Bentuk dadu sirkuit pintar seperti bentuk dadu pada umumnya, yaitu berbentuk kubus. Namun mata dadunya diganti dengan rumus-rumus dari bangun geometri yang ada pada papan permainan.
3. Bidak
Bidak berfungsi sebagai penunjuk posisi pemain. Pada permainan sirkuit, bidak diganti mobil-mobilan. Hal ini bertujuan agar permainan sirkuit pintar layaknya sebuah pertandingan balap mobil di atas lingkaran sirkuit pintar. Mobil-mobilan dapat diganti dengan tutup pulpen dan sebagainya.
4. Bengkel Ingatan
Bengkel ingatan merupakan alat bantu permainan yang terbuat dari kertas dan berbentuk prisma tegak segitiga. Pada media bengkel ini terdapat acuan kesesuaian antara materi yang ada di dalam kotak dan dadu. Contohnya adalah gambar bangun datar beserta rumusnya yang berfungsi sebagai referensi peserta ketika lupa akan rumus.
Aturan permainan Sirkuit Pintar Matematika:
1. Permainan diikuti oleh 4 pemain dengan lebih dahulu menentukan urutan bermain.
2. Menentukan urutan bisa menggunakan “hom pim pa”
3. Pemain yang mendapat urutan pertama melempar dadu dan bermain dahulu.
4. Pemain pertama menjalankan mobilnya menuju kotak yang sesuai dengan rumus yang diperoleh ketika melakukan pelemparan. Misalnya, anak memperoleh mata dadu (pxl) maka mobil berjalan sampai kotak bergambar persegi panjang.
5. Setelah selesai, dilanjutkan pemain kedua dan selanjutnya sesuai urutan.
6. Ketika mobil pemain berhenti pada kotak yang terdapat pangkal tanda panah, pemain harus menjalankan mobilnya mengikuti tanda panah tersebut.
7. Jika pemain mendapatkan tanda panah naik, ia berhak melempar dadu kembali.
8. Apabila mobil berhenti pada kotak yang terdapat mobil pemain lain, mobil pemain yang pertama kali di kotak tesebut tertabrak dan harus mengulang kembali di kotak start.
9. Ketika pemain berada diantara tujuh kotak terakhir, ia akan menjadi pemenang apabila memperoleh rumus mata dadu yangs sesuai dengan kotak yang ia tempati. Namun, jika pemain tersebut mendapat rumus mata dadu yang berbeda dengan kotak yang ia tempati, ia harus menjalankan mobilnya ke kotak di depannya sesuai dengan rumus mata dadu. Jika kotak depannya tidak ada yang sesuai, ia harus mundur ke belakang satu kotak.
10. Pembalap yang memenangkan permainan menjalankan mobilnya ke kotak finish.
Contoh:
Pemain yang menempati kotak segitiga dalam tujuh kotak terakhir akan menjadi pemenang jika ia mendapat rumus dadu
. Namun, jika mendapat rumus trapesium, ia harus menjalankan mobilnya mundur ke belakang satu kotak, karena di depan kotak segitiga tidak ada kotak bergambar trapesium.
Permainan sirkuit pintar dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan dan kreativitas guru.
Selain kedua macam permainan matematika diatas ada juga permainan matematika yang lain antara lain Tak Tik Lak, Tak Tik Math, dan sebagainya. Untuk anak berkebutuhan khusus bisa menggunakan permainan batang kuesioner dan tongkat berangka untuk memahamkan konsep aritmetika (bisa dibaca dalam referensi buku karya Bandi Dhelphi). Guru dapat aktif mencari sumber dari buku-buku atau internet kemudian memodifikasi dalam pembelajaran. Metode permainan sangat bagus digunakan untuk pembelajaran anak usia SD dimana pada periode ini anak dominan senang bermain.
10. Metode Eksperimen
Metode eksperimen dalam matematika bisa digunakan, misalnya pada siswa SMP saat siswa belajar tentang melukis lingkaran luar segitiga maka siswa harus mempraktekkan dengan memakai jangka dan penggaris dengan benar. Untuk anak SD misalkan siswa praktek menggunakan busur dan penggaris untuk membuat sudut, mengukur panjang dan lebar lapangan sepakbola dan menghitung luasnya. Untuk anak SMA misalnya membuat irisan pada bangun dimensi tiga. Jadi, metode eksperimen sangat penting bagi pembelajaran siswa dimana siswa dituntut terampil dalam menggunakan alat-alat yang berhubungan dengan pengukuran dan menggambar pada mata pelajaran geometri.
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa untuk memilih metode pembelajaran diusahakan menarik bagi siswa didik dan memperhatikan 7 hal yaitu :
1. Dapat membangkitkan motif, minat, atau gairah belajar peserta,
2. Dapat menjamin perkembangan kegiatan kepribadian peserta,
3. Dapat memberikan kesempatan bagi peserta untuk mewujudkan hasil karya,
4. Dapat merangsang keinginan peserta untuk belajar lebih lanjut, melakukan eksplorasi dan inovasi (pembaharuan),
5. Dapat mendidik peserta dalam tehnik belajar sendiri dan cara memperoleh pengetahuan melalui usaha pribadi,
6. Dapat meniadakan penyajian yang bersifat verbalitas dan menggantinya dengan pengalaman atau situasi yang nyata,
7. Dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikap utama yang diharapkan dalam kebiasaan
Metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam strategi pembelajaran matematika antara lain metode ceramah, ekspositori, demonstrasi, drill dan latihan, tanya jawab, diskusi, penemuan, pemecahan masalah, permainan dan eksperimen. Metode-metode tersebut dalam aplikasi proses pembelajaran bisa dikombinasi atau berdiri sendiri.
B. Saran
Sebaiknya sebagai seorang guru hendaknya memiliki referensi tentang berbagai macam metode pembelajaran supaya diperoleh keefektifan dalam proses belajar mengajar. Setiap metode tidaklah sempurna sehingga sebaiknya selalu dievaluasi penggunaannya oleh guru apakah efektif atau perlu tindakan lain sehingga dalam proses pembelajaran berikutnya lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Bandi Dhelphi. 2009. Matematika Untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Klaten : PT Intan Sejati
Budi Manfaat. 2010. Membumikan Matematika dari Kampus ke Kampung. Jakarta : Eduvision Publishing
Depdikbud.1999. Strategi Belajar Mengajar. Departemen pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Depdiknas. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika, Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta : Depdiknas
Djam’an Satori, dkk. 2008. Profesi Keguruan. Jakarta: Universitas Terbuka
Endang Poerwanti dan Nur Widodo. 2005. Perkembangan Peserta Didik. Malang : Universitas Negeri Malang
Erma Suherman dan Udin S. Winataputra. 1993. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Jakarta : Universitas Terbuka
Mujidin. 2011. Metode Mengajar (materi kuliah). PPKPP UAD
Mulyani Sumantri dan Nana Syaodih. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Universitas Terbuka
Santrock, J. W. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Pranana Media Group
Soedjadi. 2002. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Konstatasi masa Kini Menuju Harapan Bangsa. Jakarta : Depdiknas
Sugiyanto. 2011. Model-Model Pembelajaran (materi kuliah). PPKPP UAD
Wina Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Predana Media Group
Yasin Yusuf dan Umi Auliya. 2011. Sirkuit Pintar melejitkan Kemampuan Matematika & Bahasa Inggris Dengan Metode Ular Tangga. Jakarta : Visimedia




Komentar
Posting Komentar