PRA One Day One Post

AKU DAN KENANGAN PALING BERKESAN
KARENAMU AKU BISA, IBU
Oleh : Wuri Setiasih
.
.
Kenangan masa kecilku sungguh tak terlupakan. Hidup dengan suasana pedesaan yang tidak kenal kebisingan. Bahkan kami baru tersentuh listrik pada tahun 1992. Padahal kami terletak di pinggir kota kabupaten di Kulon Progo. Sewaktu kecil, menjelang maghrib kami segerakan menyalakan lampu petromak dan lampu-lampu kecil yang disebut “dian” atau “teplok”.
Dian ini berbahan bakar minyak bumi. Mungkin yang lahir tahun 2000-an tidak mengenal namanya minyak bumi. Minyak bumi berasal dari hewan purba yang terkubur berjuta-juta tahun. Berkat minyak bumi kami bisa melihat terang dalam gelapnya malam.

Aku lahir dan dibesarkan oleh seorang ibu yang diamanahi sebagai ibu single parent. Beliau tidak pernah menikah lagi, sejak usia 28 tahun menjanda. Berbagai godaan dari laki-laki genit dan fitnah tak jarang menimpanya. Namun beliau kuat dan tak pernah tergoda. Akulah saksi hidup beliau, karena akulah anak bungsu yang paling disayanginya.

Soal pendidikan, simbokku tak pernah abai. Walau kami kurang berada soal pembayaran SPP dan kebutuhan bukuku adalah nomor satu. Kalau tidak ada buku, terkadang saya pinjam buku dan beliau merangkumkan untukku. Beliau sudah lelah kerja di sawah seharian, akan tetapi usai maghrib selalu menemaniku belajar. Disinari terangnya dian yang temaram, aku membaca buku dan mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Tak hanya masalah buku dan SPP, seragam sekolahpun selalu disiapkan ibuku. Tidak hanya dibelikan, tapi dibuatkan sendiri. Beliau mempunyai dasar-dasar menjahit. Waktu kecil kami belum mempunyai mesin jahit, tapi tak membuat ibuku menyerah. Beliau menumpang di tempat tetangga, hanya sekedar menjahitkan baju untukku dan kakakku. Selain menjahit, ibuku cukup terkenal sebagai orang yang jago memasak. Sering sekali menjadi andalan orang-orang saat berhajat. Tapi free alias gratis, tanpa bayaran. Terkadang sampai larut malam dan pulang pagi hanya dikarenakan membantu membuat bumbu. Maklum semua orang bergantung padanya, agar mendapatkan bumbu yang enak dan gurih. Beliau meminimalisir penggunaan MSG tapi lebih mempertegas cita rasa bumbu.

Kenangan itupun membuatku selalu bersyukur. Aku dibesarkan oleh seorang ibu yang luar biasa. Alhamdulillah lagi, berkat dukungan seorang ibu, single parent aku cukup berprestasi dalam bidang akademik. Walau dari kalangan orang tak berada, aku mampu menembus bangku kuliah PTN. Tanpa beasiswa.

Berbahagialah yang masih mempunyai ibu.
Berbahagialah yang mendapat bantuan beasiswa, apalagi sekarang beasiswa melimpah.
Semoga aku bisa berbakti padamu, IBU.
Semoga aku bisa menjadi anak solehah yang selalu mendoakanmu dan menjadi wasilah amal kebaikan buatmu.
Semoga engkau selalu sehat selalu, dalam bimbingan Allah Swt dan rahmatNya. Aamiin YRA
#Tulisan ini sebagai syarat daftar ODOP
#DaftarODOP

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAKDIRKU, ISTRI SIRI - PART 11

Mengapa Saya Harus Menulis?

Gantungan Cinta